Langsung ke konten utama

Perayaan Seni dan Pemberdayaan Perempuan: Dananjaya Organizer Gelar Pertunjukan "Srikandi" di Taman Budaya Jawa Tengah

 


     SURAKARTA, 13 MEI 2026 – Dananjaya Organizer sukses menyelenggarakan acara seni budaya bertajuk "Srikandi" dengan mengangkat tema "Perempuan, Perjuangan, Kekuatan". Acara yang berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026 ini bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) dan dihadiri oleh ratusan pencinta seni, akademisi, serta masyarakat umum.Acara dibuka dan ditutup dengan penampilan megah dari UKM Sentra UIN Raden Mas Said Surakarta. Sebagai sajian utama, panggung budaya diwarnai oleh pementasan Tari Srikandi yang dibawakan secara apik oleh Sanggar Balagenk Art Community. 

     Tarian ini berhasil memukau penonton melalui visualisasi karakter Srikandi yang tangguh, mandiri, dan penuh dedikasi.Tidak hanya menyajikan estetika gerak tari, acara ini juga menghadirkan sesi Talk Show interaktif untuk membedah makna perjuangan perempuan dari sudut pandang akademis dan praktisi seni. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya:Triageng Giatno Mukti, S.Sn.Tumuruning Nur Rahayu Lestari, M.Sn."Melalui karakter tokoh wayang Srikandi, kami ingin menyampaikan pesan kuat tentang esensi perjuangan dan ketangguhan perempuan di era modern," ujar perwakilan Dananjaya Organizer dalam sesi wawancara.Acara ini terselenggara berkat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk jajaran media partner lokal dan sponsor strategis seperti Coffee Said, Kopi Top, dan FC Damar Jaya. 

     Dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau sebesar Rp15.000, serta penawaran paket bundling khusus, antusiasme masyarakat Surakarta dan sekitarnya terpantau sangat tinggi sejak gerbang dibuka.Melalui pagelaran ini, Dananjaya Organizer berharap dapat terus melestarikan kebudayaan lokal sekaligus memicu ruang diskusi positif mengenai pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...