Langsung ke konten utama

FAIRYTALE: "NIGHT OF TRAGEDY AND CURSED DESTINY"

 

  Sukoharjo, Kamis 21 Mei 2026—Kelas Archion mempersembahkan sebuah pertunjukan drama bertema dark fantasy bertajuk Fairytale.Mengusung nuansa tragedi, mitologi, pengkhianatan, dan kutukan, pertunjukan ini menghadirkan dua drama utama berjudul Owls Never Sing An Elegy dan Bride of the Wolf. Melalui visual teatrikal yang megah serta alur cerita emosional, penonton akan diajak menyelami dunia kelam yang dipenuhi konflik batin, ambisi, cinta, dan balas dendam.

 Drama pertama, Owls Never Sing An Elegy, menceritakan kisah Knut, Randgriz, dan Sigrid yang terikat oleh sumpah lama namun dipisahkan oleh jalan hidup dan pengkhianatan. Di tengah dinginnya perebutan kekuasaan dan rahasia masa lalu, cinta berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap daripada kutukan. Pertunjukan ini menghadirkan suasana tragedi nordik yang penuh misteri sekaligus mempertanyakan apa yang sebenarnya mampu mengikat seorang Valkyrie pada raja yang telah menghancurkan kepercayaannya.

 Sementara itu, Bride of the Wolf membawa penonton pada kisah tragis Reginleif, seorang Valkyrie yang menggunakan mantra Weeping Night demi membalas kematian ayahnya. Di tengah pertumpahan darah dan perebutan pedang terkutuk Dáinsleif, hadir pertanyaan besar mengenai apakah ketulusan dan pengampunan masih mampu memutus rantai kebencian. Dengan nuansa gothic yang intens dan emosional, drama ini menjadi simbol tentang kehancuran, kehilangan, sekaligus harapan terakhir di tengah kutukan.

 Melalui Fairytale, Archion ingin menghadirkan pengalaman seni pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga meninggalkan refleksi mendalam tentang cinta, pengkhianatan, dan sisi tergelap manusia. Dengan kolaborasi tata cahaya, musik, akting, dan konsep visual yang dramatis, acara ini diharapkan mampu membawa penonton masuk ke dalam dunia fantasy tragedy yang penuh emosi dan makna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...