SURAKARTA, 10 September 2026— Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta, dengan mempertemukan seniman Indonesia dan mancanegara melalui seni pertunjukan tari, musik, tradisi, dan kontemporer.
Memasuki tahun ke-18 penyelenggaraannya, SIPA 2026 mengusung tema “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”, yang merefleksikan semangat melampaui batas melalui kreativitas, kolaborasi, dan pertukaran budaya. Tahun ini, SIPA menghadirkan delegasi dari Jepang, Korea Selatan, New Zealand, Taiwan, dan Malaysia, serta kelompok seni dari berbagai daerah di Indonesia.
Direktur SIPA, Irawati Kusumorasri, mengatakan bahwa tema tahun ini membuka ruang luas bagi seniman untuk mengekspresikan ide dan visi kreatif.
“Di dalam tema *Kinetic Kinship: Beyond Boundaries* terdapat imajinasi daya cipta tak kasat mata, di mana SIPA meleburkan segala batasan. Hanya ada ruang luas untuk mengekspresikan ide dan visi kreatif.”
Pembukaan SIPA 2026 turut dihadiri GRAJ Ancillasura Marina Sudjiwo dari Mangkunegaran, Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, serta perwakilan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan Piagam Karisma Event Nusantara (KEN) sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi SIPA dalam mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menilai SIPA memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem seni pertunjukan sekaligus identitas Surakarta sebagai Kota Budaya.
“Hadirnya SIPA ini memperkuat ekosistem pertunjukan budaya serta memperkuat status Kota Solo sebagai Kota Budaya.”
Sementara itu, perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Antonio Prakoso, mengapresiasi konsistensi SIPA sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara.
“Ini menunjukkan konsistensi SIPA dalam menghadirkan festival budaya yang berkomitmen menjadikan sebuah panggung yang mempertemukan beragam budaya, manusia, serta seniman yang diperhitungkan di kancah internasional.”
Seni sebagai Jembatan Antarbudaya
SIPA 2026 tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang diplomasi budaya. Hal tersebut terlihat dari kehadiran Duta Besar New Zealand, Philip Nathan Taula, yang menekankan pentingnya hubungan budaya dalam memperkuat hubungan antarnegara.
“Beberapa hubungan yang paling kuat yang bertahan lama justru terletak pada hubungan budaya. Salah satu tempat kerja sama kebudayaan antara kedua negara ini adalah SIPA.”
Panggung SIPA 2026 kemudian menampilkan Ohinemataroa dari New Zealand dengan karya Kapa Haka, Nomadart dari Korea Selatan melalui karya Logic, serta Seed Dance Company dari Taiwan dengan karya Lost Connection.Dari Indonesia, SIPA menghadirkan Kemantren Langenpraja Mangkunegaran-Surakarta dan Gaung Marawa dari Sumatera Barat melalui karya Tarekat (Nyanyian Surau). Pertemuan karya-karya tersebut menunjukkan keberagaman seni Nusantara sekaligus dialog antara tradisi lokal dan perspektif artistik global.
Melalui SIPA 2026, seni pertunjukan menjadi medium untuk mempertemukan manusia, gagasan, dan budaya lintas negara. Konsistensi penyelenggaraan SIPA sekaligus memperkuat posisi Surakarta sebagai salah satu ruang penting bagi pertukaran seni dan diplomasi budaya di tingkat internasional.

Komentar
Posting Komentar