Langsung ke konten utama

Rayakan Hari jadi ke 11, "KPI’s Day" Siap Digelar dengan Kolaborasi Tradisional hingga Modern

   


    Surakarta, 18 September 2026 – Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) bersiap menyelenggarakan acara tahunan bergengsi bertajuk "KPI’s Day". Acara ini dirancang sebagai panggung kreativitas yang memadukan unsur seni budaya tradisional dengan hiburan musik modern, yang akan berlangsung dari sore hingga malam hari.

    Acara akan dibuka secara resmi mulai pukul 15.00 WIB dengan sambutan dari jajaran pimpinan, termasuk Wakil Dekan, Ketua Program Studi (Kaprodi), serta Ketua Panitia KPI’s Day. 

  Kehadiran para pimpinan ini menegaskan dukungan penuh institusi terhadap ruang ekspresi positif bagi mahasiswa.Sesi sore hari akan kental dengan nuansa budaya dan kreativitas internal. 

 Penonton akan disuguhkan pertunjukan Sesorah Gagrag Anyar, penampilan dari KPI 24, serta alunan Senandung Harmony. Tidak kalah menarik, sebuah pertunjukan Sendratari (Seni Drama dan Tari) juga akan menjadi salah satu sorotan utama sebelum memasuki waktu istirahat. Kemeriahan sore hari ditutup dengan aksi panggung dari The Paws dan Beranjak Band bersamaan dengan sesi pembagian hadiah.

  Memasuki sesi malam yang dimulai pukul 19.15 WIB, atmosfer KPI’s Day akan bertransformasi menjadi lebih bertenaga dengan tata cahaya (lighting show) yang memukau. Deretan grup musik siap menghentak panggung utama, di antaranya penampilan dari The Pist, The Redpier, dan penampilan spesial dari The Jeblogs. Sebagai pemuncak acara, DJ Better Luck akan memimpin sesi penutupan (closing) untuk merayakan keberhasilan acara bersama seluruh panitia dan pengunjung yang hadir.

  KPI’s Day diharapkan tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi wadah mempererat solidaritas, mengasah bakat, serta menunjukkan eksistensi positif mahasiswa KPI kepada masyarakat luas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...