Langsung ke konten utama

Permata Fest 2026 Hadirkan Screening Film dan Sharing Session Bersama Filmmaker

 


    Surakarta, 12 September 2026 — Permata Fest 2026 menghadirkan rangkaian kegiatan perfilman melalui screening film dan sharing session yang berlangsung di KOAT Coffee. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Permata TV dalam menyediakan ruang bagi para sineas untuk memperkenalkan karya sekaligus berinteraksi dengan penonton.

  Acara dibuka dengan sambutan dari ketua panitia, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran karya yang terbagi dalam dua program, yaitu Pas Sangat dan Sangat Pas. Program Pas Sangat menampilkan empat film, yakni “Bladahan”, “Jeda”, “Uthil”, dan “Unlock”.

  Setelah pemutaran film pertama, penonton berkesempatan mengikuti sesi diskusi bersama para pembuat karya. Pembahasan berlangsung dengan membicarakan cerita, pesan, hingga pengalaman dalam proses produksi. Interaksi tersebut memberikan kesempatan kepada penonton untuk melihat sebuah karya tidak hanya dari hasil akhirnya, tetapi juga dari sudut pandang orang-orang yang terlibat di dalamnya.

   Salah satu pembuat film turut menyampaikan apresiasinya terhadap ruang yang diberikan Permata TV bagi para sineas untuk berkembang dan mengekspresikan diri.

 “Terima kasih sudah memberi ruang buat para sineas yang mungkin lagi mulai berkarya atau berkembang. Makasih Permata TV sudah menyediakan ruang untuk kita berekspresi,” ujar salah satu pembuat film.

    Rangkaian kemudian berlanjut melalui program Sangat Pas dengan pemutaran “Diam-Diam Aku Ingin Melawan” dan “Kita Gali Sampai Mati”. Setelahnya, kembali digelar sesi diskusi yang mempertemukan penonton dengan pembuat film untuk membahas karya yang telah ditampilkan.

   Kegiatan ditutup dengan pemberian sertifikat kepada pihak yang terlibat serta One Piece Memories sebagai bentuk apresiasi kepada para sineas. Melalui Permata Fest 2026, Permata TV turut menghadirkan ruang pertemuan antara pembuat karya dan penikmat film untuk saling berbagi cerita, perspektif, serta pengalaman dalam dunia perfilman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...