Langsung ke konten utama

Delegasi Tiga Negara Tutup Perhelatan SIPA 2026

 


   SURAKARTA [12/9/2026] Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 resmi menutup rangkaian perhelatan seni pertunjukan internasional di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta. Pada Sabtu, 12 September malam terakhir, SIPA 2026 kembali mempertemukan seniman dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara melalui karya yang mengeksplorasi tubuh, tradisi, suara, serta berbagai bentuk ekspresi seni pertunjukan

   Rangkaian pertunjukan hari terakhir diawali dengan penampilan Aceh Performing Art (APA) ISBI Aceh melalui karya "TIGA (Pertunjukan Tubuh)". Karya tersebut membuka panggung dengan eksplorasi tubuh sebagai medium ekspresi sekaligus membawa kekayaan seni pertunjukan Aceh ke hadapan penonton SIPA 2026.

   Panggung kemudian kembali menghadirkan SyuRei by Ryukyu Art Embassy dari Jepang dengan karya "Okinawan Dance". Ini adalah pertunjukan kedua oleh SyuRei by Ryukyu Art Embassy yang menampilkan keindahan tarian Okinawa di panggung.

  Rangkaian pertunjukan berlanjut dengan penampilan Sanggar Bunga Rosina dari Dumai, Riau yang membawakan karya "Puteri Sri Bunga Tanjung". Karya tersebut menghadirkan kekayaan cerita dan tradisi Melayu Riau melalui seni pertunjukan. Kehadiran Sanggar Bunga Rosina sekaligus memperkuat ruang bagi kesenian daerah untuk tampil dalam perhelatan seni pertunjukan yang mempertemukan seniman Indonesia dan internasional.

   Selanjutnya, Contemporary Dance Company Jayu dari Korea Selatan tampil melalui karya "Obscured Silence". Pertunjukan ini menghadirkan pendekatan tari kontemporer dan memperluas keberagaman artistik SIPA 2026 dengan perspektif seni pertunjukan dari Korea Selatan. Mereka membawa vinyl sebagai bagian keunikan pertunjukan mereka.

  Panggung SIPA 2026 kemudian diisi oleh Company Danzak dari Jepang melalui karya "BIRDA". Oriha Kato sebagai penari utama menampilkan tari flamenco yang menceritakan burung bangau sebagai perantara alam dan manusia.

    Setelah itu, Sanggar Seni TITIAN AKA dari Sumatera Barat menghadirkan karya "Retaknya Pelita". Karya tersebut kembali membawa kekayaan seni pertunjukan Nusantara ke panggung SIPA sekaligus memperlihatkan keberagaman ekspresi budaya Indonesia dari berbagai wilayah.

  Rangkaian pertunjukan malam terakhir kemudian dilanjutkan oleh KITA! 1010 SEPTET dari Jepang melalui karya "Noisy Bodies & Jumping Voices". Pertunjukan ini menjadi salah satu sajian penutup yang menghadirkan eksplorasi gerak dan suara dalam karakter artistik yang berbeda. Keindahan suara dari perpaduan alat musik piano, suling, biola, double bass, marimba, dan drum melengkapi penampilan SIPA mereka. Sebagai delegasi terakhir yang tampil, 1010 SEPTET mengajak Gondrong Gunarto untuk berkolaborasi di panggung SIPA 2026, menghadirkan kolaborasi epic antara seniman nusantara dan dunia.

 Setelah seluruh rangkaian pertunjukan berakhir, acara dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada para seniman dan delegasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam SIPA 2026.

  Perhelatan kemudian ditutup secara resmi melalui Closing Ceremony yang ditandai dengan pemukulan kenong dan penampilan spesial oleh Wakil Walikota Surakarta yang membawakan lagu "Indonesia Jaya". Penutupan tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian SIPA 2026 sekaligus menegaskan komitmen Kota Surakarta dalam menjaga seni dan budaya sebagai bagian penting dari kehidupan. masyarakat dan pariwisata daerah.

  Wakil Waki Kota Surakarta, Astrid Widyani dalam sambutannya menyampaikan "SIPA tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan, namun menjadi sebuah ruang dialog berbudaya di Kota Surakarta dan menjadi ruang dari para seniman nusantara dan mancanegara yang dapat memperluas ruang apresiasi budaya."

   la menambahkan "Terimakasih kepada SIPA Community, Mangkunegaran, serta pihak yang bekerjasama dalam menghadirkan pertunjukan budaya ini. Kami mendukung terus kegiatan budaya yang membawa Kota Solo ke kancah Internasional. Selamat atas kesuksesan acara SIPA 2026, harapannya agar SIPA semakin berkembang secara inklusif dan berdaya saing"

  Melalui panggung SIPA, karya tradisi dan kontemporer dapat hadir dalam satu ruang yang sama, membuka kesempatan bagi seniman untuk berbagi gagasan sekaligus bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia dan dunia.

   Dengan berakhirnya Closing Ceremony, SIPA 2026 kembali menegaskan perannya sebagai ruang ekspresi, apresiasi, kolaborasi, dan diplomasi budaya. Dari panggung Pamedan Pura Mangkunegaran, keberagaman seni pertunjukan menjadi jembatan yang mempertemukan Solo dengan Indonesia dan dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...