Langsung ke konten utama

UKM FIRE #14 2026 Meriahkan Penyambutan Mahasiswa Baru dengan Kirab dan Beragam Penampilan UKM


   Surakarta, 2026 - Kegiatan UKM FIRE #14 2026 menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang menghadirkan semarak penyambutan mahasiswa baru melalui kirab serta berbagai penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

   Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 08.40 WIB dengan mobilisasi mahasiswa baru menuju venue UKM FIRE di Lapangan Utama. Setelah itu, mahasiswa baru diarahkan untuk mengikuti pengondisian kirab sebelum melaksanakan kirab menuju Hall FIT pada pukul 09.40 WIB.

   Sesampainya di Hall FIT, kegiatan dilanjutkan dengan ceremonial berupa pemotongan pita, sambutan Ketua Paguyuban UKM dan Wakil Rektorat 3, serta pembukaan oleh MC. Rangkaian kemudian dimeriahkan dengan penampilan sejumlah UKM, di antaranya UKM Karawitan, Pencak Silat, MMA, dan T-MAPS.

   Setelah jeda istirahat, salat, dan stempel, penampilan UKM kembali dilanjutkan. Berbagai UKM turut ambil bagian, seperti DISTA FM, RACANA, Olahraga, SENTRA, UKMI, Dinamika, JQH, Menwa, Locus, KSR, SRD, Specta, Kopma, E-Sport, Marching Band, Teater Sirat, hingga GAS 21.

   Rangkaian UKM FIRE #14 2026 dijadwalkan berakhir dengan penutupan oleh MC pada pukul 17.05 WIB. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan agenda guest star dan sayonara hingga pukul 18.05 WIB.

   Selain menampilkan beragam UKM, kegiatan ini juga menggunakan identitas warna berdasarkan fakultas, yaitu kuning untuk Fakultas Tarbiyah, hitam untuk Fakultas FASYA & SAINTEK, merah untuk FEBI, hijau untuk FAB, dan biru untuk FUD.

   Melalui rangkaian kirab dan penampilan berbagai UKM tersebut, UKM FIRE #14 2026 menjadi wadah bagi mahasiswa baru untuk mengenal sekaligus melihat keberagaman kegiatan kemahasiswaan yang tersedia di lingkungan kampus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...