Langsung ke konten utama

PBAK UIN Raden Mas Said Surakarta 2026: “Mengukir Prestasi, Membangun Jati Diri”

   

   Surakarta, 21 Agustus 2026 — Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) bagi mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027. Kegiatan ini menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus membangun karakter dan jati diri sebagai bagian dari keluarga besar UIN Raden Mas Said Surakarta.

   Dalam sambutannya, Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta menyampaikan tema “Mengukir Prestasi, Membangun Jati Diri” sebagai semangat bagi mahasiswa baru dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Tahun ini, sebanyak 3.412 mahasiswa baru resmi menjadi bagian dari UIN Raden Mas Said Surakarta.

  UIN Raden Mas Said Surakarta juga terus memperkuat identitas kampus melalui konsep “Kampus Lurik” yang mencerminkan nilai budaya lokal. Identitas tersebut menjadi bagian dari upaya kampus dalam mengembangkan pendidikan yang tetap berakar pada budaya dan kearifan lokal.

  Dalam bidang pengembangan mahasiswa, kampus menyiapkan berbagai peluang bagi mahasiswa, termasuk program magang di PTKIN. Selain itu, UIN Raden Mas Said Surakarta juga menjalin program kerja sama dengan Google sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan kesiapan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi serta dunia kerja.

  Penguatan hubungan dengan alumni juga menjadi perhatian kampus. Saat ini telah terbangun ikatan alumni PTKIN yang diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkuat jejaring serta memberikan kontribusi bagi pengembangan mahasiswa dan perguruan tinggi.

 Rektor juga menekankan penerapan kurikulum berbasis cinta dalam proses pendidikan. Konsep tersebut menjadi salah satu upaya untuk membangun lingkungan akademik yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga membentuk mahasiswa yang memiliki kepedulian, empati, dan karakter yang baik.

   Selain itu, UIN Raden Mas Said Surakarta turut memperkenalkan Ekotiologi, yang disebut sebagai kajian yang hanya terdapat di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu bentuk pengembangan keilmuan yang mengangkat kekhasan dan potensi lokal dalam lingkungan akademik.

    PBAK tahun ini juga diikuti oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk 18 mahasiswa asing. Dari jumlah tersebut, terdapat 53 mahasiswa asing yang mendapatkan beasiswa, menunjukkan keterbukaan UIN Raden Mas Said Surakarta dalam memberikan kesempatan pendidikan bagi mahasiswa dari berbagai negara.

  Sementara itu, sebanyak 2.520 mahasiswa baru mengikuti Papermop sebagai salah satu rangkaian kegiatan PBAK. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pengenalan budaya akademik dan pembentukan kebersamaan mahasiswa baru.

  Melalui PBAK 2026, UIN Raden Mas Said Surakarta berharap mahasiswa baru dapat beradaptasi dengan kehidupan kampus, mengembangkan potensi, serta berani mengukir prestasi dengan tetap menjunjung nilai-nilai dan jati diri sebagai mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...