Langsung ke konten utama

SIPA 2026 Perkenalkan "Gondrong" Gunarto sebagai Ambassador: Representasi Eksplorasi Budaya dan Musik Kontemporer Indonesia

   


    SURAKARTA 29 Juli 2026—Solo International Performing Arts (SIPA) dengan bangga perhelatan seni pertunjukan bertaraf international ini, SIPA menggandeng "Gondrong" Gunarto memperkenalkan ambassador yang akan menjadi wajah dari SIPA 2026 mendatang. Dalam sebagai figur inspiratif yang merepresentasikan semangat eksplorasi, keberagaman, dan keberlanjutan budaya Indonesia.

 Pemilihan "Gondrong" Gunarto sebagai Ambassador SIPA 2026 bukan tanpa alasan. Sosoknya dikenal sebagai musisi sekaligus komposer yang konsisten mengembangkan musik kontemporer berbasis tradisi, khususnya gamelan. Lahir dan tumbuh di lingkungan seni tradisional, ia merupakan putra seorang dalang yang sejak awal telah akrab dengan nilai-nilai budaya Jawa yang kental.

  Perjalanan musikalnya dimulai sejak tahun 1993 ketika ia mulai menekuni musik kontemporer melalui proses kreatif di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dari titik tersebut, "Gondrong" Gunarto terus bereksperimen dengan berbagai aliran musik, menggabungkan unsur tradisional dan modern hingga melahirkan karya-karya yang unik, berani, dan penuh eksplorasi artistik.

 Sepanjang kariernya, "Gondrong" Gunarto telah tampil di berbagai panggung internasional bergengsi, mulai dari World Gamelan Festival di Malaysia, Sapporo Musik festival di Jepang, hingga festival seni di Eropa dan Amerika Serikat. Ia juga terlibat dalam berbagai kolaborasi lintas budaya yang mempertemukan gamelan dengan musik global, menjadikannya sebagai salah satu figur penting dalam diplomasi budaya Indonesia melalui seni pertunjukan.

  Selain aktif sebagai performer, ia juga dikenal sebagai komposer dan music director dalam berbagai pertunjukan besar, baik di dalam maupun luar negeri. Dedikasinya dalam mengembangkan musik kontemporer berbasis tradisi menjadikannya simbol seniman yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendorongnya untuk terus relevan di era modern.

  SIPA sendiri merupakan salah satu festival seni petunjukan internasional yang secara konsisten menghadirkan seniman dari berbagai negara sekaligus menjadi ruang interaksi budaya yang inklusif dan dinamis. Melalui penunjukan ambassador tahun ini, SIPA semakin menegaskan komitmennya dalam menghadirkan karya-karya seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan kultural yang kuat.Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, SIPA 2026 diharapkan mampu kembali menjadi panggung apresiasi seni yang tidak hanya membanggakan Kota Surakarta, tetapi juga Indonesia di mata dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...