Di era digital, hampir semua orang memiliki kamera di genggaman. Dalam hitungan detik, sebuah kejadian dapat direkam, diunggah, lalu menyebar ke berbagai platform media sosial. Teknologi memang memudahkan kita mendokumentasikan berbagai peristiwa. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan apakah teknologi juga membuat kita semakin peduli terhadap sesama, atau justru sebaliknya?
Belakangan ini, media sosial dipenuhi berbagai video yang memperlihatkan kecelakaan, bencana, hingga aksi kekerasan. Tidak sedikit dari video tersebut direkam oleh orang-orang yang berada di lokasi kejadian. Ironisnya, dalam beberapa situasi, ada orang yang lebih memilih mengangkat ponsel untuk merekam daripada memberikan pertolongan pertama kepada korban. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada perubahan dalam cara masyarakat merespons sebuah musibah.
Menurut saya, budaya media sosial sedikit demi sedikit telah mengubah makna kepedulian. Dulu, ketika melihat seseorang mengalami kesulitan, naluri pertama. yang muncul adalah membantu atau mencari pertolongan. Kini, respons itu sering kali tergantikan oleh keinginan mengabadikan momen. Tidak sedikit orang yang berpikir bahwa dengan merekam dan mengunggah sebuah kejadian, mereka telah melakukan sesuatu. Padahal, belum tentu tindakan tersebut memberikan manfaat bagi korban.
Kondisi ini tentu tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada individu. Perkembangan media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk perilaku masyarakat. Algoritma berbagai platform digital dirancang untuk menampilkan konten yang mampu menarik perhatian pengguna. Video yang mengandung unsur emosi, konflik, atau tragedi biasanya memperoleh jangkauan yang lebih luas dibandingkan konten biasa. Akibatnya, tanpa disadari, banyak orang terdorong untuk merekam berbagai peristiwa karena menganggapnya memiliki nilai untuk dibagikan.
Di sisi lain, paparan terhadap konten-konten tragis yang terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Penelitian berjudul Empati yang Tereduksi Krisis Kemanusiaan dalam Budaya Scroll Tanpa Henti (2026) menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi konten tragedi secara berulang dapat menyebabkan penurunan sensitivitas emosional. Ketika seseorang terlalu sering melihat penderitaan melalui layar, rasa iba yang muncul perlahan menjadi berkurang karena tragedi dianggap sebagai bagian dari rutinitas saat menggunakan media sosial.
Fenomena tersebut juga dapat dijelaskan melalui konsep bystander effect dalam psikologi sosial. Konsep ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung enggan memberikan pertolongan ketika banyak orang lain berada di lokasi yang sama. karena menganggap akan ada orang lain yang bertindak. Di era digital, menurut saya, fenomena ini berkembang dalam bentuk yang berbeda. Banyak orang merasa telah menunjukkan kepedulian hanya dengan membagikan video, memberikan komentar, atau menuliskan ucapan belasungkawa. Padahal, empati yang sesungguhnya tidak berhenti pada ekspresi di dunia maya, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata.
Meski demikian, media sosial bukanlah sesuatu yang harus disalahkan sepenuhnya. Faktanya, platform digital juga sering dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi kebencanaan, mencari orang hilang, menggalang donasi, hingga menghubungkan relawan dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Artinya, teknologi hanyalah alat. Cara kita menggunakannya yang menentukan apakah teknologi akan membawa manfaat atau justru mengurangi nilai-nilai kemanusiaan.
Oleh karena itu, literasi digital menjadi hal yang sangat penting. Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua peristiwa harus direkam dan disebarluaskan.

Komentar
Posting Komentar