Langsung ke konten utama

UKM Karawitan Wening Jati UIN Raden Mas Said Surakarta Gelar Pagelaran Wayang Kulit Bertema "Sasmita Kencana Laras ing Budaya"


   Surakarta, 11 Juni 2026 – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan Wening Jati UIN Raden Mas Said Surakarta sukses menyelenggarakan Pagelaran Wayang Kulit bertema "Sasmita Kencana Laras ing Budaya" di Pendhapa Kewirausahaan UIN Raden Mas Said Surakarta. Mengusung jargon "Gema Budaya, Kumandanging Nuswantara!", kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen mahasiswa dalam melestarikan seni dan budaya tradisional Indonesia, khususnya seni pewayangan.

    Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan, penyerahan tokoh wayang sebagai simbol dimulainya pagelaran, doa bersama, serta perkenalan singkat dalang dan lakon yang akan dipentaskan.

 Puncak acara menghadirkan pagelaran wayang kulit dengan lakon Dewa Ruci yang dibawakan oleh Ki Babad Wono Putro. Lakon ini mengisahkan perjalanan Raden Bratasena (Bima) dalam mencari jati diri melalui berbagai ujian kehidupan. Cerita tersebut sarat akan nilai-nilai moral, filosofi, serta pesan kehidupan yang tetap relevan bagi masyarakat hingga saat ini.

    Melalui kegiatan ini, UKM Karawitan Wening Jati berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal, mencintai, dan turut melestarikan seni pewayangan sebagai salah satu warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia. Pagelaran ini juga menjadi sarana edukasi sekaligus ruang apresiasi budaya agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam wayang tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

   Dengan terselenggaranya kegiatan ini, UKM Karawitan Wening Jati berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai kegiatan seni budaya sebagai bentuk pelestarian warisan bangsa. Wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter, refleksi kehidupan, dan identitas budaya yang patut dijaga serta diwariskan kepada generasi mendatang.

     "Gema Budaya, Kumandanging Nuswantara!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...