Langsung ke konten utama

Rupiah Terpuruk, BBM Meroket: Indonesia di Ambang Krisis Ekonomi?

   Blokade Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran pada Februari 2026 telah mengganggu jalur keluar masuk kapal tanker global.Hal ini terjadi karena adanya eskalasi konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat.

 Konflik ini terjadi salah satunya akibat upaya Iran untuk memperoleh kandungan isotop Uranium U235 sebesar 60% dan beberapa proksi Iran mengganggu sekutu dan kepentingan nasional Amerika Serikat.

  Menurut Badan Energi Internasional (IEA) Selat Hormuz sendiri merupakan alur laut sempit yang memisahkan Semenanjung Arab dan IranDengan jalur sempit tersebut sekitar 25 % perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit ini. Gangguan sekecil apapun akan berdampak pada kenaikan harga minyak global. 

 Kenaikan harga minyak global pada akhirnya juga berimbas di Indonesia yakni Pertamax yang semula di tahan pada harga Rp 12.300/Liter menjadi Rp 16.250/Liter dan pada BBM non-subsidi lainnya.

 Kenaikan harga BBM non-subsidi ini memang tidak memukul masyarakat bawah secara langsung layaknya kenaikan Pertalite atau Biosolar. Kendati demikian, dampaknya akan menjalar secara tidak langsung pada kenaikan harga bahan pokok akibat membengkaknya biaya logistik para pelaku usaha.

 Hal ini juga diperparah oleh kebijakan pemerintah membuat program yang tidak produktif dan berisiko terjadinya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Seperti pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan pembentukan 750 Batalion Teritorial Pembangunan (Yon TP) yang artinya akan ada penambahan 1 juta tentara. 

 Program-program tersebut membuat beban APBN Indonesiadefisit sebesar 2,8% terhadap PDB hal ini mungkin akan terus naik apabila, situasi global tidak kondusif dan tidak ada perencanaan matang dari pemerintah. Padahal menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara batas maksimal defisit APBN adalah 3% terhadap PDB. 

 Defisit APBN yang terus naik, situasi geopolitik yang tidak bisa diperdiksi dan kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat berefek pada investor di Indonesia tidak mau lagi untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Ini berimbas pada nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing yang terus turun.

 Salah satunya adalah nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS,sebesar Rp 18.130 per 1 Dolar AS. Ini pada akhirnya akan memicu Inflasi contohnya pada bahan pokok impor seperti kedelai dan gandum yang merupakan bahan dasar pembuatan tempe dan mi. Jika pemerintah tidak berbenah dan tidak hanya asal bapak suka saja krisis ekonomi di Indonesia bukanlah mustahil terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...