Langsung ke konten utama

Pentas Seni Kebudayaan dan Talkshow MADRIPUTRA Organizeer Ragam Kesenian Tradisional dan Ruang Diskusi Budaya

 


     Surakarta, 3/6/2026. MADRIPUTRA Organizeer dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta sukses menyelenggarakan Pentas Seni Kebudayaan dan Talkshow di Surakarta. Kegiatan ini menjadi wadah apresiasi seni sekaligus ruang edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.


    Acara dimulai pukul 13.00 WIB dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan sambutan dari panitia dan tamu undangan. Suasana semakin semarak dengan berbagai pertunjukan seni yang menampilkan kekayaan budaya dari sejumlah sanggar dan komunitas seni. Berbagai penampilan yang memukau hadir dari LSO UIN Raden Mas Said Surakarta, Sanggar Jagadathi, Sanggar Maheswari Surakarta, Sanggar Eyang Gondorejo, Sanggar Sekar Tanjung, Forsajabar, serta Sanggar Maheswari HMPS PIAUD. Selain menyaksikan pertunjukan seni, para pengunjung juga berkesempatan mengikuti sesi doorprize yang diselenggarakan panitia.


   Puncak acara diisi dengan talkshow yang membahas pentingnya pelestarian budaya di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi. Melalui sesi ini, peserta diajak untuk memahami peran generasi muda dalam menjaga eksistensi budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa. Kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian doorprize, penutupan resmi acara, dan penampilan band yang menghibur seluruh peserta. Antusiasme pengunjung selama acara menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan seni dan budaya.


     Melalui Pentas Seni Kebudayaan dan Talkshow ini, MADRIPUTRA Organizeer berharap dapat terus menghadirkan ruang kolaborasi bagi para pelaku seni, akademisi, dan masyarakat dalam upaya melestarikan serta mengembangkan kebudayaan Indonesia di era modern.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...