Langsung ke konten utama

Pameran Fotografi KPI Semester 4 Hadirkan Karya Visual Mahasiswa di Lobby Laboratorium UIN Surakarta

 


   Surakarta, 12 Juni 2026 – Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Semester 4 UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar Pameran Fotografi pada Jumat (12/6) di Lobby Laboratorium UIN Surakarta. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi secara gratis.

 Pameran menampilkan puluhan karya fotografi hasil praktik mahasiswa yang disusun pada area pameran di lobby laboratorium. Berbagai objek dan tema diangkat dalam karya-karya tersebut, mulai dari potret alam, bangunan, aktivitas masyarakat, hingga objek-objek yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Melalui karya yang dipamerkan, mahasiswa berupaya menyampaikan pesan serta sudut pandang mereka melalui media visual.

   Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam bidang fotografi sekaligus memberikan pengalaman dalam menyelenggarakan sebuah pameran. Selain menampilkan hasil karya, kegiatan ini juga menjadi ruang apresiasi bagi mahasiswa untuk memperkenalkan karya mereka kepada civitas akademika dan pengunjung yang hadir.

  Selama pameran berlangsung, pengunjung tampak mengamati setiap karya yang dipajang serta berdiskusi mengenai teknik pengambilan gambar, komposisi foto, dan pesan yang terkandung di dalamnya. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya berfungsi sebagai media dokumentasi, tetapi juga sebagai sarana komunikasi yang mampu menyampaikan makna kepada khalayak.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa KPI Semester 4 diharapkan dapat semakin mengembangkan kreativitas, kemampuan teknis, serta pemahaman mengenai peran fotografi sebagai media komunikasi visual. Pameran fotografi ini juga menjadi bentuk implementasi pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik secara langsung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...