Langsung ke konten utama

Gaya Hidup Sehat Bertemu Warisan Budaya, Acara Lari "Kaum Nyalcerun " Sukses Digelar di Kampung Batik Kauman



     SURAKARTA, 31 MEI 2026 – Sebuah kolaborasi unik antara aktivitas kesehatan dan pelestarian budaya sukses diselenggarakan hari ini melalui acara lari santai bertajuk "Kaum Nyalcerun: Sehat Berlari Bangga Berbatik". Mengambil rute sepanjang 5 kilometer, ajang fun run ini berpusat di Sekar Kauman, Kampung Batik Kauman, Surakarta, dan berhasil menarik antusiasme ratusan pencinta olahraga lari (runners) serta pegiat budaya lokal.


    Acara yang diinisiasi oleh kalimatayaorganizer dari Program Studi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) bertujuan untuk mengampanyekan gaya hidup sehat sekaligus meningkatkan rasa bangga masyarakat terhadap kain batik sebagai warisan luhur Nusantara. Berbeda dengan acara lari pada umumnya, para peserta diajak mengenakan atribut atau pakaian bermotif batik saat menyusuri rute peninggalan sejarah di kawasan Kampung Batik.


     Kegiatan dimulai sejak pagi buta pukul 06.00 WIB. Dengan harga tiket masuk (HTM) yang sangat terjangkau, yaitu sebesar Rp5.000 (5K), setiap peserta sudah mendapatkan berbagai fasilitas menarik, mulai dari konsumsi (refreshment), kopi gratis (free coffee), hingga fasilitas dokumentasi kegiatan selama berada di jalur lari."Kami ingin menunjukkan bahwa melestarikan budaya seperti batik tidak harus kaku.  Melalui Kaum Nyalcerun , kami menggabungkan olahraga modern yang sedang digandrungi anak muda dengan identitas lokal khas Surakarta," ujar perwakilan dari panitia penyelenggara.


     Acara ini terselenggara berkat dukungan penuh dari pihak Sekar Kauman serta jaringan media partner lokal, seperti Mudi-Mudi, Solo Event, dan komunitas lari Solo Runners yang turut meramaikan jalannya acara dari awal hingga garis finish. Pihak penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus menjadi agenda rutin untuk mendongkrak pariwisata berbasis budaya di wilayah Surakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...