Langsung ke konten utama

Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta Gelar Workshop Peningkatan Standardisasi Kurikulum Praktikum

 


 SURAKARTA, 25 Juni 2026 – Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta sukses menyelenggarakan workshop bertajuk "Peningkatan Standardisasi dan Implementasi Kurikulum Praktikum bagi Dosen dan Pegiat Laboratorium". Acara ini berlangsung di Aula Fakultas Ushuluddin dan Dakwah lantai dua.

  Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kualitas pembelajaran melalui tata kelola laboratorium yang lebih baik. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Doktor Haji Kholilurrahman, M.S., menekankan bahwa laboratorium bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan jantung dari inovasi dan kreativitas mahasiswa. Oleh karena itu, kurikulum praktikum yang diterapkan harus memiliki standar baku yang adaptif dengan perkembangan zaman.

   Workshop ini menghadirkan narasumber ahli di bidang tata kelola laboratorium, salah satunya adalah Doktor Agus Trianto, M.Pd., selaku Kepala Laboratorium Psikologi Pendidikan dan Bimbingan dari Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam pemaparannya, beliau membagikan instrumen penting mengenai standardisasi mutu laboratorium serta penyusunan modul praktikum yang terstruktur.

   Agenda yang berlangsung pada 25 Juni 2026 ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari unsur dosen, pembina laboratorium, serta perwakilan ketua program studi (seperti Kaprodi KPI, BKI, IAT, dan AFI) di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Selain itu, acara juga melibatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.

  Penyelenggaraan workshop ini diharapkan dapat memastikan pencapaian pembelajaran masing-masing program studi dapat diturunkan dengan tepat ke dalam skema praktikum yang baru, sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...