Langsung ke konten utama

TANPOMIM HADIRKAN PENTAS PANTOMIM “BUKAN SEKADAR GERAK”



 Surakarta, 24 Mei 2026 — Tanpomim, kelompok pantomim dari Teater Sirat UIN Raden Mas Said Surakarta, menggelar pementasan bertajuk “Bukan Sekadar Gerak”pada Kamis malam, 21 Mei 2026, di Student Center UIN Raden Mas Said Surakarta.

Acara ini menggabungkan pertunjukan pantomim dua babak dengan sesi sarasehan interaktif bersama komunitas pantomim Solo Raya.

Mengusung semangat “Tanpa Mandek Mengalurkan Cerita”, Tanpomim menegaskan bahwa kreativitas adalah proses yang tak pernah usai. Pementasan ini hadir bukan sekadar sebagai pertunjukan, melainkan sebagai ruang ekspresi, apresiasi, dan pemetaan potensi pelaku seni pantomim yang tersebar di berbagai komunitas Solo

Raya.

 Dua Babak, Delapan Karya

Pementasan terbagi dalam dua babak yang masing-masing menampilkan 4 karya pantomim berdurasi 5–7 menit. Babak pertama, “Tentang Kita Hari Ini”, menghadirkan potret kehidupan manusia modern melalui karya-karya: Di Pulau Ada Kami (Darmo & Arif), Mancing (Fuad & Yusuf), Tumbuh (Ardin), dan Cinta Belok (Husein & Lintang

Digidaw).

Babak kedua, “Waktu dan Kenangan”, mengajak penonton menelusuri jejak memori dan perjalanan waktu melalui karya: Sugeng Ambal Warso (Edi), Halte (Iqbal Klomoh),Kala Itu (Yudi & Faiq), dan penampilan spesial dari Solo Mime Society (Rio, Jagung& Memed).

 Sarasehan: Membangun Ekosistem Pantomim Solo Raya

Usai pementasan, acara berlanjut dengan sesi sarasehan bertema “Potensi & Ekosistem Pantomim Solo Raya” pukul 20.45–21.45 WIB. Dipandu oleh Muhammad Fuad selaku moderator, sarasehan ini menghadirkan narasumber dari Solo Mime Society untuk mendiskusikan masa depan komunitas pantomim di wilayah Solo.

 Jejak Solo Mime Parade: Dari 2012 Hingga KiniPopo dari Solo Mime Society membuka sarasehan dengan menelusuri sejarah gerakan pantomim di Solo. Ia berkisah bahwa Solo Mime Parade pertama kali digelar pada 2012. Gelaran ini berlanjut pada 2013, kemudian terhenti pada 2015 karena

berbagai kendala, dan baru kembali hadir pada 2024 setelah hampir satu dekade

vakum.

Popo juga mengakui bahwa wacana membangun ekosistem pantomim sebenarnya sudah lama ingin digulirkan, namun belum terlaksana karena masing-masing pegiat pantomim masih memiliki kesibukan di luar komunitas. Turah Hananta menyoroti bahwa keseriusan di kalangan pegiat pantomim masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, membangun ekosistem tidak harus menunggu lahirnya banyak komunitas baru — yang lebih penting adalah membangun eksistensi. Bukan sekadar mempertahankan penonton yang sudah ada, melainkan secara aktif

membangun penonton baru yang sebelumnya belum mengenal pantomim. Saiful Ahsani memperkuat gagasan tersebut dengan menegaskan bahwa eksistensi adalah kunci. Tanpa kehadiran yang konsisten di ruang publik, pantomim berisiko terpinggirkan dari kesadaran masyarakat. Rio membawa perspektif yang lebih segar. Di era digital ini, menurutnya, membangun eksistensi justru semakin mudah. Ia mendorong para pegiat pantomim untuk tidak ragu membuat keramaian, menggegerkan linimasa, dan memanfaatkan platform digital sebagai panggung baru yang menjangkau audiens lebih luas.Sarasehan ini diharapkan menjadi titik awal kolaborasi nyata antara Tanpomim, Solo Mime Society, dan komunitas pantomim Solo Raya lainnya dalam menciptakan panggung-panggung reguler serta ekosistem yang hidup dan berkelanjutan.

 Didukung Oleh

Acara ini didukung oleh Teater Sirat dan Solo Mime Society, Noga Coffee, Kopi

Kaliuda, Clay Gem Tenis Court, Farida Collection, Peace Pedal Sindicate, dan Rumah Banjarsari. Media partner resmi: Radeka FM, Permata TV, dan Info Pertunjukan Solo.

 Terbuka untuk Umum

Acara ini terbuka bagi mahasiswa, komunitas seni dan teater, pegiat pantomim se-Solo Raya, serta masyarakat umum penikmat seni pertunjukan. Tidak dipungut biaya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...