Langsung ke konten utama

Seminar Kepenulisan AI for Better Writing

   Sukoharjo, Sabtu 9 Mei 2026 – di SBSN Lt.1. UKM LPM Dinamika sukses menyelenggarakan Seminar Kepenulisan bertema “AI for Better Writing: Optimalisasi Artificial Intelligence Sebagai Pendukung Penulisan Ilmiah”. 

  Kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa dan pelajar yang memiliki minat dalam bidang kepenulisan serta pengembangan teknologi Artificial Intelligence (AI).

  Seminar ini diselenggarakan sebagai bentuk upaya meningkatkan kemampuan literasi dan keterampilan menulis ilmiah di era digital. Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh wawasan mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence sebagai pendukung proses penulisan ilmiah secara efektif, kreatif, dan tetap memperhatikan etika akademik.

   Kegiatan menghadirkan Dwi Cahyono sebagai pemateri utama. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan berbagai cara optimalisasi AI dalam dunia akademik, mulai dari pengembangan ide, penyusunan struktur tulisan, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah. Seminar dipandu oleh moderator Tria Putri Wulandari yang turut membangun suasana diskusi menjadi lebih interaktif dan komunikatif.

  Rangkaian acara diawali dengan opening ceremony berupa pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars UIN Raden Mas Said, serta sambutan dari pembina UKM, ketua umum, dan ketua panitia. Setelah sesi seminar berlangsung, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi langsung bersama pemateri. 

  Melalui seminar ini, UKM LPM Dinamika berharap peserta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi AI secara bijak dan inovatif sebagai sarana pendukung dalam dunia kepenulisan, khususnya penulisan ilmiah. Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan, wawasan, serta semangat literasi di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...