Puncak kemeriahan acara ditandai dengan Pertunjukan Tari Kolosal "Aku Kipas" yang menghadirkan 1.550 penari dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk Solo, Yogyakarta, Jakarta, hingga Dompu (NTB). Pertunjukan ini tampil memukau dengan melibatkan partisipasi inklusif dari komunitas disabilitas, yang membuktikan bahwa panggung seni milik semua kalangan tanpa batas. Selain panggung tari, masyarakat juga telah antusias mengikuti rangkaian workshop Sanggul Nusantara, workshop melukis kipas kreatif, serta mengunjungi pameran "Kipas Melintas Waktu" yang menyajikan 32 artefak kipas bersejarah sebagai jejak perjalanan budaya dunia.
Momentum ini juga mencatat sejarah penting dengan pengukuhan Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) Surakarta dan pembacaan manifesto Hari Tari Indonesia (HATI). Melalui deklarasi ini, para seniman mempertegas perjuangan untuk menetapkan tanggal 27 Juli sebagai hari nasional demi memperkuat posisi seni tari dalam kebijakan publik dan identitas bangsa. Dengan terlaksananya Solo Menari 2026, Surakarta kembali memperkokoh posisinya sebagai simpul kreatif dunia yang konsisten merawat tradisi melalui inovasi gerak dan pemikiran intelektual.

Komentar
Posting Komentar