Langsung ke konten utama

HMPS Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta Mengungkapkan Diri Melalui "Building Spiritual Character"


  Surakarta, 23 April 2026 – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta sukses menyelenggarakan kegiatan pengembangan diri bertajuk "Building Spiritual Character". Acara yang berlangsung khidmat ini mengangkat tema khusus: "Seni Mengungkapkan Diri dengan Qaulan Layyinan dan Qaulan Ma’rufan."

  Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademis dan psikologis, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dalam berkomunikasi. Fokus utama materi adalah bagaimana mengaplikasikan konsep komunikasi Al-Qur'an, yaitu Qaulan Layyinan (perkataan yang lemah lembut) dan Qaulan Ma’rufan (perkataan yang baik/pantas) dalam interaksi sosial sehari-hari maupun dalam praktik profesional psikologi di masa depan.

  "Di era komunikasi digital yang seringkali lugas dan terkadang tajam, mahasiswa Psikologi Islam harus mampu menjadi penyejuk. Memahami seni mengungkapkan diri melalui kata-kata yang lembut dan penuh kebaikan adalah cerminan karakter spiritual yang kuat," ujar salah satu perwakilan panitia di sela-sela acara.

   Melalui seminar/workshop ini, para peserta diajak untuk mengeksplorasi bahwa cara seseorang berkomunikasi adalah cerminan dari kesehatan mental dan kematangan spiritualnya. Dengan tutur kata yang baik, pesan akan lebih mudah diterima tanpa melukai perasaan lawan bicara.

   Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini, mahasiswa Psikologi Islam UIN Raden Mas Said dapat menjadi pribadi yang asertif namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islami, menciptakan lingkungan kampus yang harmonis, serta siap terjun ke masyarakat sebagai agen perubahan yang membawa kedamaian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...