Langsung ke konten utama

"Sumunar: Solo dalam Tarian" Hadirkan Harmoni Warisan dan Keberagaman Seni di Surakarta”

 



     Surakarta, 14 Februari 2026 — Sanggar Semarak Candra Kirana akan menyelenggarakan pagelaran seni pertunjukan bertajuk Sumunar: Solo dalam Tarian pada 13 Februari 2026 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. “Sumunar” merupakan sajian seni pertunjukan yang mengangkat Kota Surakarta sebagai ruang hidup yang kaya akan keberagaman budaya, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang terus menyala di tengah perubahan zaman. Melalui perpaduan tari, musik, narasi, dan visual panggung, pagelaran ini merefleksikan harmoni kehidupan masyarakat Solo sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Berangkat dari kekayaan warisan budaya seperti batik, seni wayang, serta ruang-ruang sejarah kota, karya-karya yang dihadirkan juga merespons dinamika kehidupan masa kini.

     “Sumunar” tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap identitas budaya Kota Solo, tetapi juga menghadirkan pesan tentang keselarasan, kebersamaan, dan kesadaran kolektif dalam menjaga jati diri kota agar tetap bercahaya dan relevan dari masa ke masa. Hal ini diwujudkan kedalam proses kreatif di lingkungan Sanggar Semarak Candra Kirana, yang melibatkan para anak didik bersama pelatih dan pendidik sanggar. 

        Proses tersebut tidak hanya berfokus pada hasil pertunjukan, tetapi juga pada pengalaman belajar, pendalaman nilai serta pembentukan kesadaran artistik melalui kerja sama dan disiplin berproses. Pagelaran ini diselenggarakan di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Melalui proses kreatif di lingkungan Sanggar Semarak Candra Kirana, “Sumunar” dihadirkan sebagai ruang pertemuan antara pelaku seni dan publik. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah dan sarana edukasi kultural yang mengenalkan Kota Solo kepada publik dengan menghadirkan nilai-nilai tradisi, kebersamaan dan keberlanjutan secara kontekstual dan bermakna

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...