Langsung ke konten utama

PEMENTASAN TEATER "ETERNITY IV" MENGHADIRKAN KEINDAHAN BAHASA DALAM TEMA BESAR NOX: NOCTIS ES NOSTRI


Surakarta, 3 Desember 2025 -  Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Fakultas Adab dan Bahasa sukses menggelar pementasan teater tahunan bertajuk “Eternity IV” dengan tema Nox: Noctis Es Nostri pada 29 November 2025 di Taman Budaya Jawa Tengah. Pertunjukan ini menghadirkan perpaduan seni peran, kekuatan naskah, dan keragaman bahasa yang menjadi ciri khas karya mahasiswa di ranah sastra dan pertunjukan.

Mengusung konsep teater multibahasa, pementasan ini menampilkan dialog dalam tiga bahasa, yaitu Arab, Indonesia, dan Inggris, yang memperkaya dinamika cerita dan memberi pengalaman berbeda bagi para penonton. Seluruh rangkaian drama disusun untuk membangun suasana malam bertema “Nox”, menghadirkan nuansa puitik sekaligus penuh ketegangan artistik.

Dalam pementasan tersebut, empat drama dipersembahkan secara berurutan, masing-masing dengan karakter dan kekuatan dramaturgi yang berbeda. Drama “OWLS Never Sing An Elecy” karya sutradara Alifa Salsabila dan Vira Astri membuka pertunjukan dengan simbolisme yang mendalam. Selanjutnya, “Ahros Albab” garapan Maulidya Aulia dan Arriqza Widya tampil sebagai karya yang menyampaikan pesan moral dan refleksi diri. Pertunjukan berlanjut dengan “Aku vs Ayahku” yang disutradarai Zulfa Najwa dan Isnaini Fatimatul, menghadirkan konflik emosional antara keluarga yang dekat dengan realitas keseharian. Pementasan ditutup oleh “Pain of The Pins: A Bowling Story” karya Khilya Tifani dan Qatrunnada Nafisa, yang menghadirkan cerita segar namun tetap menyimpan pesan mendalam.

“Eternity IV” menjadi bukti kreativitas dan dedikasi para mahasiswa Fakultas Adab dan Bahasa dalam menghadirkan karya teater yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menyajikan eksplorasi bahasa dan budaya. Melalui pementasan ini, mereka berharap dapat terus memperluas ruang diskusi seni serta memperkuat eksistensi teater sebagai medium ekspresi akademik dan artistik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...