Langsung ke konten utama

INFEST 2025 Hadirkan “Colors of the World”: Merayakan Keberagaman Budaya dari Delapan Negara

         Surakarta, 3 Desember 2025 — Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta kembali menggelar agenda tahunan Intercultural Communication Festival (INFEST) 2025. Mengusung tema “Colors of the World”, festival ini menghadirkan perayaan keberagaman budaya dunia melalui fashion show, penampilan seni, serta tenant makanan khas dari delapan negara.

         Tema “Colors of the World” dipilih sebagai representasi dari semangat kreativitas, keberagaman, dan keterhubungan antarbudaya. Sejak memasuki area festival, pengunjung langsung disambut suasana penuh warna melalui dekorasi panggung, booth negara, hingga tampilan visual yang menggambarkan dinamika budaya global.

         Tahun ini, mahasiswa angkatan 2024 menjadi penampil utama dengan menampilkan pertunjukan budaya dari delapan negara. Mereka tampil dalam balutan busana tradisional penuh warna dan karakter, serta memperlihatkan keunikan masing-masing budaya melalui gerakan, musik, dan visual. Setiap penampilan dikemas menarik dan interaktif, sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman budaya dunia secara langsung.

         Selain pertunjukan seni, INFEST 2025 juga menghadirkan tenant kuliner dari berbagai negara yang memungkinkan pengunjung mencoba makanan khas sebagai bagian dari pengalaman lintas budaya. Festival ini didesain sebagai ruang belajar yang ringan, inklusif, dan menyenangkan, sehingga mahasiswa dapat mengenal dan memahami budaya global secara lebih dekat.

         INFEST 2025 bukan hanya ajang unjuk kreativitas mahasiswa, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat pemahaman intercultural communication di tengah masyarakat multikultur. Melalui pertemuan budaya ini, INFEST berharap dapat menumbuhkan rasa saling menghargai dan memperluas wawasan lintas negara bagi seluruh pengunjung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...