Langsung ke konten utama

ECO CULTURE #12 – UKM SENTRA 2025

   Surakarta, UKM SENTRA kembali menyelenggarakan Eco Culture sebagai salah satu agenda tahunan yang menegaskan komitmen organisasi dalam pelestarian budaya sekaligus pengembangan kreativitas mahasiswa di bidang seni tari tradisional. Kegiatan ini dihadirkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui rangkaian pertunjukan seni yang tetap mengedepankan nilai, karakter, dan keaslian tradisi yang menjadi identitasnya.

   Acara resmi dibuka pada pukul 18.45 WIB dengan rangkaian Opening Mapping, Teaser, dan Tari Batik, sebelum memasuki Opening Ceremony. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Pelaksana, Ketua UKM SENTRA, Pembina UKM SENTRA, serta Wakil Rektor 3 yang sekaligus melakukan prosesi pemukulan gong sebagai tanda dibukanya ECO CULTURE #12 secara resmi.

   Rangkaian pertunjukan budaya menjadi highlight acara, menghadirkan berbagai tarian tradisional seperti Tari Bagurau, Tari Jathil, Tari Petani Ayu, Tari Gugur Gunung, dan Tari Lenggang Nyai. Penggabungan koreografi, musik tradisional, serta visual panggung membuat setiap penampilan membawa pesan budaya yang kuat dan memberikan pengalaman artistik bagi seluruh penonton.

   Acara ditutup dengan suasana penuh apresiasi dan kebersamaan, menandai berakhirnya rangkaian pentas budaya yang berjalan dengan sukses. Melalui ECO CULTURE #12, UKM SENTRA berharap dapat terus menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berkarya, melestarikan seni tradisional, serta memperkuat kecintaan terhadap budaya Indonesia di lingkungan kampus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...