Langsung ke konten utama

Seminar Nasional Kemuslimahan 2025: Empower Muslimah Gen Z, Berani Berpendapat dan Cerdas Berkarya

         Surakarta, 7 November 2025 – Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Nurul Ilmi kembali menggelar Seminar Nasional Kemuslimahan 2025 dengan tema “Empower Muslimah Gen Z: Berani Berpendapat, Cerdas dalam Berkarya.” Kegiatan ini menjadi ajang penguatan peran perempuan muslim generasi muda untuk berani tampil, berpikir kritis, serta memberikan kontribusi nyata di berbagai bidang.

         Acara ini diselenggarakan pada Jumat, 7 November 2025, bertempat di Aula SBSN Lt. 1 UIN Raden Mas Said Surakarta, mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai. Seminar ini terbuka khusus untuk peserta putri dan diharapkan mampu menjadi ruang inspiratif bagi para muslimah untuk terus berkembang menjadi pribadi yang berani, cerdas, dan menginspirasi.

     Dua pembicara inspiratif dihadirkan dalam kegiatan ini.

     Pertama, Salsabila Akbar, seorang Public Speaker, News Presenter, Voice Over Talent, sekaligus penulis buku “Melelahkan, tapi Harus Diperjuangkan.” Kak Shafa juga dikenal sebagai Coach Public Speaking dan Content Creator edukatif yang aktif berbagi motivasi kepada generasi muda.

       Pembicara kedua adalah Hanifah Khairiyah, Lc., CPS, alumni Universitas Al-Azhar Kairo dan penerima beasiswa Asfa Foundation. Ia merupakan CEO & Founder Speakis_id, serta Duta Mahasiswa Timur Tengah dan Afrika 2024–2025. Melalui kiprahnya, Kak Hanifah mendorong muslimah muda untuk berani bersuara, berjejaring global, dan berperan aktif dalam perubahan sosial.

       Dengan semangat Empower Muslimah Gen Z, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi para peserta untuk meningkatkan kemampuan diri, menumbuhkan rasa percaya diri, dan memperluas wawasan keislaman dalam menghadapi tantangan zaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...