Langsung ke konten utama

Festival Public Speaking T-MAPS bersama Coach Willy Tan


        Kartasura - Puluhan peserta memadati Gedung Graha UIN Raden Mas Said Surakarta dalam gelaran meriah Festival Public Speaking T-Maps yang diadakan oleh UKM T-MAPS. Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Panitia, Mr. Abdan, yang menekankan semangat kebersamaan dan pengembangan keterampilan. Dilanjutkan oleh Direktur T-Maps, Mr. Nazrul Aziz, yang menyampaikan agar mencetak pemimpin muda yang percaya diri dan inspiratif. Momentum tersebut benar-benar terasa istimewa karena ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur sekaligus soliditas antar anggota. Foto bersama dengan Coach Willy Tan menambah kehangatan kebersamaan dan semangat kebersamaan di antara peserta.

         Salah satu puncak acara adalah talkshow bersama Coach Willy Tan, pelatih dari Brave Speakers, yang menghadirkan wawasan segar tentang seni berbicara di depan umum. Ia mengingatkan bahwa public speaking tidak hanya soal keberanian, melainkan juga mengelola suara agar sesuai dengan suasana dan emosi audiens. Dalam pemaparannya, Coach Willy juga menekankan pentingnya persiapan mental, teknik pernapasan, dan intonasi agar pesan tersampaikan dengan jelas dan berdampak. Peserta sangat antusias menyerap setiap materi, bertanya, dan berbagi pengalaman masing-masing. Suasana talkshow pun terasa hidup, penuh inspirasi, dan interaktif.

       Acara dengan rangkaian pertunjukan yang sangat menghibur dan kreatif dari para anggota UKM T-Maps mulai dari tari, puisi, drama musikal, hingga nyanyian yang semuanya mencerminkan bakat dan dedikasi mereka. Penampilan-penampilan ini tidak hanya memukau mata dan telinga, tetapi juga memperkuat ikatan antar pengurus, anggota, dan tamu istimewa. Festival ini menjadi momentum penting bagi UKM T-Maps dalam memperkuat reputasi sebagai wadah pengembangan bakat public speaking di kampus. Semoga keberhasilan acara ini menjadi pemicu semangat bagi generasi muda untuk terus berkarya dan menginspirasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...