Langsung ke konten utama

Mahasiswa, Wujudkan Academic Power untuk Ubah Peradaban



Sukoharjo,13 Oktober 2025 - UKMI Nurul Ilmi dengan bangga mempersembahkan Seminar Nasional Akademik 2025 yang diselenggarakan pada Sabtu, 11 Oktober 2025 di Graha UIN Raden Mas Said Surakarta. Acara ini mengangkat tema menarik, yaitu _"Academic Power, Sosial Impact Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan Peradaban"_, dengan tujuan menginspirasi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mendorong transformasi sosial dan kemajuan peradaban. Seminar ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk berperan aktif dalam menciptakan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Pembicara utama pada acara ini adalah Muhammad 'Ainurriza Al Kahf, seorang tokoh yang sangat inspiratif. Beliau adalah finalis Clash of Champions Season II by Ruangguru, sekaligus peraih Gold Medal Olimpiade Fisika Nasional 2024 dan Silver Medal bidang ONMIPA 2024. Kiprah dan prestasi beliau tentu akan menjadi sumber motivasi bagi para peserta seminar, terutama mahasiswa yang ingin mengembangkan potensi akademis dan sosial mereka.

Seminar Nasional Akademik 2025 ini menawarkan berbagai benefit menarik bagi peserta, antara lain sertifikat, gantungan kunci, stiker, doorprize, serta ilmu yang bermanfaat. UKMI Nurul Ilmi mengundang seluruh Sobat Peradaban untuk bergabung dan menjadi bagian dari acara ini. Dengan semangat dan komitmen tinggi, UKMI Nurul Ilmi mengajak mahasiswa untuk tidak hanya berfokus pada akademis, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat dan peradaban.

Melalui seminar ini, UKMI Nurul Ilmi berharap dapat menanamkan kesadaran dan semangat bagi mahasiswa untuk menjadi pemimpin perubahan yang berdampak luas. Dengan menghadirkan pembicara yang inspiratif dan tema yang relevan, acara ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk generasi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...