Langsung ke konten utama

Said Run 2025: Olahraga, Kebersamaan, dan Pemberdayaan UMKM dalam Dies Natalis UIN Raden Mas Said Surakarta

 


Surakarta, 21 September 2025 – Sebanyak 800 peserta meramaikan ajang Said Run 2025, sebuah kegiatan lari sehat (Fun Run 5K) yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-33 UIN Raden Mas Said Surakarta. Acara yang berlangsung pada Minggu (21/9) ini mengambil start dari kampus utama dan dipenuhi suasana semangat kebersamaan, sportivitas, serta keceriaan.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak dini hari dengan sholat subuh berjamaah, doa bersama, hingga warming up yang diiringi oleh Marching Band MB Mandala Bahana Sambernyawa UIN Raden Mas Said Surakarta. Tepat pukul 05.55 WIB, Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta melepas peserta melalui seremoni flag off, menandai dimulainya Fun Run 5K.

Setelah garis finis, peserta disambut dengan beragam hiburan, mulai dari senam zumba bersama, penampilan musik dari Lukman Daren and Friends serta UKM GAS 21, hingga sesi fun games yang interaktif. Tak ketinggalan, panitia juga mengumumkan penghargaan finisher tercepat dan kostum terbaik, serta membagikan doorprize menarik untuk menambah antusiasme peserta.

Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag, dalam sambutannya menegaskan bahwa Said Run 2025 bukan hanya sekadar olahraga, melainkan wujud nyata kebersamaan civitas akademika, alumni, dan masyarakat. Beliau juga meresmikan LAB Kewirausahaan (KWU) sebagai bentuk dukungan kampus dalam pengembangan potensi mahasiswa di bidang bisnis dan enterpreneurship.

Selain itu, hadir pula Dr. Helmi Haris, M.S.I selaku Kepala Pusat Pengembangan Bisnis yang menyampaikan apresiasinya atas tingginya partisipasi peserta dalam acara ini.

Acara kemudian ditutup dengan fun games dan bazar UMKM. Dengan tema sportivitas, kebersamaan, dan pemberdayaan, Said Run 2025 sukses menjadi ajang yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi sekaligus memberikan ruang apresiasi bagi UMKM.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...