Langsung ke konten utama

Komadiksi Festival 2025: Merayakan Kreativitas dan Inovasi Mahasiswa Bidikmisi



   Surakarta, 7 September 2025 - Keluarga Solid Bidikmisi/KIPK Sebelas Maret (Komadiksi) dengan bangga mempersembahkan Komadiksi Festival 2025, sebuah acara tahunan yang menampilkan kreativitas dan inovasi mahasiswa Bidikmisi dari berbagai universitas di Indonesia. Acara ini akan diselenggarakan pada tanggal 7 September 2025 di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta

    Komadiksi Festival 2025 mengusung tema "Transformasi Digital: Peran Mahasiswa dalam Menjawab Tantangan Global Masa Depan melalui Inovasi Teknologi". Tema ini merefleksikan pentingnya peran mahasiswa dalam menghadapi tantangan global melalui inovasi teknologi dan kreativitas. Acara ini terdiri dari dua kompetisi utama, yaitu lomba essai dan infografis, yang diikuti oleh peserta dari berbagai kampus ternama di Indonesia, termasuk Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Negeri Semarang, dan lain-lain.

     Selain kompetisi, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan seni yang memukau, seperti tarian, band musik, teater, dan lain-lain. Penampilan seni ini tidak hanya menambah keseruan acara, tetapi juga menunjukkan bakat dan kreativitas mahasiswa Bidikmisi. 

    Komadiksi Festival 2025 bertujuan untuk mengatasi pendidikan, menginspirasi inovasi, dan memimpin upaya kolektif menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Melalui acara ini, Komadiksi berharap dapat menjadi wadah bagi mahasiswa Bidikmisi untuk berbagi ide, pengalaman, dan kreativitas, serta membangun jaringan dan kolaborasi antar mahasiswa dari berbagai universitas.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...