Langsung ke konten utama

Pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemanusiaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta 2025


     Sukoharjo, 19 Agustustus 2025 - UIN Raden Mas Said Surakarta kembali menggelar Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) untuk menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2025 dengan jumlah keseluruhan mencapai 3771 mahasiswa baru yang mencakup dari fakultas ilmu tarbiyah, fakultas adab dan bahasa, fakultas syariah, fakultas ekonomi dan bisnis islam dan fakultas ushuluddin dan dakwah.

      Acara pembukaan yang berlangsung dengan penuh semangat dan kebanggaan ini dihadiri oleh berbagai elemen penting di kampus, termasuk jajaran rektorat, tamu undangan, perwakilan organisasi mahasiswa, dan ikon PBAK 2025.

      Rangkaian acara dimulai dengan parade yang terdiri dari Ikon PBAK 2024, Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag. beserta jajarannya. Sekaligus Tamu Undangan, Sekaligus Tamu Undangan, Perwakilan Ormawa serta UKM/UKK UIN Raden Mas Said Surakarta juga turut serta dalam iring-iringan tersebut.

        Acara dibuka oleh Master of Ceremony (MC) kemudian dilanjutkan dengan sambutan serta pemukulan gong oleh Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai simbolisasi pembukaan PBAK 2024. Pada tahun ini juga UIN Raden Mas Said Surakarta mendapakan rekor muri sebagai pendaftar mahasiswa baru terbanyak dari mancanegara. Kemudian dilanjut dengan penyematan selempang kepada perwakilan mahasiswa baru. Kemudian acara dimeriahkan kembali dengan penampilan Tari Daerah oleh UKM Sentra.

      Acara pembukaan PBAK ditutup dengan ucapan selamat datang oleh Ketua Pelaksana Mahasiswa dan pembacaan sumpah mahasiswa oleh Ketua Umum DEMA.

   Rangkaian acara pembukaan selesai, kemudian peserta diarahkan ke tempat masing-masing untuk memulai sesi materi. Materi I berupa Visi Misi dan Core Value UIN Raden Mas Said Surakarta, dilanjutkan Materi II berupa Wawasan Kebangsaan Indonesia. Dengan dilaksanakannya acara ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman kebangsaan dan menyelaraskan visi-misi universitas.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...