Langsung ke konten utama

Solo Batik Carnival ke-16 Usung Tema "SAMUHITA: Subosukawonosraten" Rayakan Keberagaman Budaya Karesidenan Surakarta

 


    Solo, 2025 Kota Surakarta kembali menjadi pusat perhatian dunia melalui gelaran Solo Batik Carnival (SBC) ke-16 yang akan diselenggarakan pada tahun 2025. Mengusung tema besar "SAMUHITA: Subosukawonosraten", acara ini merayakan kekayaan budaya dari tujuh daerah yang tergabung dalam Karesidenan Surakarta: Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.

  Tema "Subosukawonosraten" merupakan akronim dari ketujuh daerah tersebut dan menjadi simbol kebersamaan dalam keberagaman. Ciri khas budaya, sejarah, dan keindahan alam dari masing-masing daerah akan dituangkan dalam bentuk kostum karnaval yang unik, megah, dan kreatif, hasil rancangan para desainer dan seniman lokal berbakat.

  Solo Batik Carnival bukan hanya ajang pertunjukan busana dan budaya, melainkan juga menjadi media promosi daerah untuk memperkenalkan potensi wisata, seni, dan warisan budaya kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan harapan besar, SBC 2025 akan menjadi penggerak peningkatan kunjungan wisata dan pemberdayaan ekonomi kreatif di wilayah Karesidenan Surakarta.

   Acara ini akan melibatkan ratusan peserta dari berbagai latar belakang, komunitas seni, pelajar, hingga pelaku industri kreatif yang siap menampilkan karya terbaik mereka di sepanjang rute karnaval. Dengan semangat kolaborasi dan pelestarian budaya, Solo Batik Carnival ke-16 siap memperkuat posisi Solo sebagai kota budaya dunia serta mendorong konektivitas pariwisata antar daerah di Jawa Tengah.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...