Langsung ke konten utama

Sukses, Euforia BasketBall Competition Diselenggarakan Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Kompetisi Basket Ball 3×3 Kategori SMA Putra Se-Solo Raya

 

     Sukoharjo - Basketball merupakan salah satu olahraga yang banyak digemari anak SMA terkhususnya putra dan merupakan salah satu cabang olahraga bergengsi. Basketball merupakan salah satu cabang olahraga yang memerlukan VO2 yang maksimal hal ini dapat ditingkatkan dengan latihan yang rutin dan dari latihan tersebut selebihnya ditentukan oleh fisik pada setiap individu.

               Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Semester 6 yang terbentuk oleh Euforia BasketBall Competition (EBC) Organizer menyelenggarakan kompetisi basketball 3×3 guna memenuhi mata kuliah Event Organizer dan juga guna meningkatkan skills atlet basket kategori putra dalam lingkup Solo Raya. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 31 Mei dan 1 Juni 2025, dengan mengajak kolaborasi Mamba 3×3 dalam kegiatan ini guna memberikan tempat dan fasilitas yang nyaman sekelas International Basket Ball 3×3.

         Banyaknya partisipasi para peserta Tingkat SMA Putra dari berbagai daerah Se-Solo Raya membantu menyukseskan acara tersebut mulai dari SMA/SMK Negeri hingga SMA/SMK Swasta dengan total peserta yaitu 27 team, kegiatan ini diadakan selama dua hari yaitu pada hari pertama sabtu 31 Mei 2025 babak penyisihan dan hari kedua 1 Juni 2025 merupakan babak semi final. Pada hari pertama dihadiri seluruh peserta berjumlah 27 team dan pada hari kedua hanya tersisa 9 team. Pada pertandingan semi final ini dimenangkan oleh (Juara 1) Sekolah Pelita Nusantara Kasih A, (Juara 2) Sekolah Kristen Pelita Nusantara Kasih B, dan (juara 3) SMA Regina Pacis Surakarta B, selain juara utama Sekolah Kristen Pelita Nusantara Kasih juga menyabet sebagai best player yaitu Elezer dengan nomor punggung 9 yang menyabet 16 kali memasukkan bola.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...