Langsung ke konten utama

WISUDA SARJANA, MAGISTER,DAN DOKTOR KE-58 UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA

 

 

    SUKOHARJO- Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta kembali mengadakan sidang senat terbuka  dalam rangka wisuda Sarjana, Magister ,dan Doktor angkatan ke-58  yang di selenggarakan di Graha UIN Raden Mas Said Surakarta pada rabu 26 februari 2005. Wisuda kali ini dengan mengusung tema  "Membangun Toleransi dan Glokalisasi Kampus Menuju Unggul Internasional". Dengan harapan kedepannya lulusan mampu membangun toleransi dan globalisasi kampus,dan meningkatkan pendidikan di tingkat internasional.

       Pada wisuda kali ini meluluskan wisudawan dan wisudawati program sarjana sejumlah 816 wisudawan, lulusan program magister sejumlah 52 wisudawan dan lulusan program doktor sejumlah 1 wisudawati.dengan jumlah peserta wisuda sebanyak 869 wisudawan dan wisudawati. Prosesi wisuda berjalan dengan baik. Acara dilanjut dengan pembacaan ikrar alumni kemudian sambutan oleh  Ego Sabirin,S. Pd dari program studi Pendidikan Agama Islam terpilih sebagai wisudawan terbaik program sarjana dan sambutan dari Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta.Wisuda berlangsung di selenggarakan di bawah pengawasan ketua senat UIN Raden Mas Said Surakarta oleh  Prof. Dr. Hj. Erwati Aziz, M. Ag.,

        Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof.Dr.Toto Suharto,M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan atas pencapaian mereka dalam menyelesaikan studi. Beliau menekankan pentingnya penerapan ilmu yang telah diperoleh terutama "Jaga ikhtiar dan komunikasi, kunci meraih kesuksesan" dan juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Para lulusan tidak hanya menerima gelar akademis mereka tetapi juga memasuki fase baru dalam kehidupan. Semoga ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh di UIN Raden Mas Said Surakarta dapat membawa mereka menuju masa depan yang sukses dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...