Langsung ke konten utama

TASYAKUR WA TAHNIAH YUDISIUM KE-58

 


          SURAKARTA - Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta sukses menyelenggarakan acara Tasyakur wa Tahniah Yudisium ke-58 pada Selasa, 18 Februari 2025, di Hotel Multazzam Syariah Surakarta. Acara yang mengusung tema “Gathering for knowledge separating with wisdom” ini dihadiri oleh 190 wisudawan dan wisudawati, termasuk 9 lulusan Tahfidz, lulusan terbaik, serta para lulusan dari berbagai program studi, seperti Ilmu Alquran dan Tafsir, Aqidah dan Filsafat Islam, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Bimbingan dan Konseling Islam, Tasawuf dan Psikoterapi Islam, Psikologi Islam, serta Manajemen Dakwah.

 

          Dalam kesempatan ini, Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Toto Suharto, M.Ag., menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan atas pencapaian mereka dalam menyelesaikan studi. Beliau menekankan pentingnya penerapan ilmu yang telah diperoleh untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Selain itu, acara ini juga diisi dengan berbagai perwakilan wisudawan terbaik serta beberapa tokoh akademik lainnya yang memberikan motivasi dan harapan bagi para lulusan.

 

          Acara ini tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi juga bertujuan untuk membangun karakter lulusan agar siap menghadapi tantangan masa depan. Dengan terselenggaranya yudisium ini, diharapkan para wisudawan dapat mengamalkan ilmu yang telah mereka peroleh serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Acara pun ditutup dengan pesan inspiratif: "Selamat kepada semua wisudawan atas prestasi mereka. Semoga ilmu yang didapat menjadi berkah bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...