Langsung ke konten utama

Mahasiswa KPI UIN Surakarta Gelar Panen Cinema di CGV Transmart Pabelan

  

     

    SURAKARTA - Mahasiswa UIN Surakarta program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) menggelar malam apresiasi karya sinema yang ber - tajuk “Panen Cinema” di CGV Transmart Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, pada Rabu (19/2/2025) malam. Tiga film yang akan diputar dan diulas berjudul “Nur”, "30 Menit" dan “Uthil”. Film-film tersebut merupakan hasil dari tugas mata kuliah Sinematografi semester 6, dari angkatan tahun 2021.

     Dalam satu hari pemutaran, dibagi menjadi tiga sesi. Pemutaran sesi-1 akan dimulai pukul 19.00 WIB. Khusus pada sesi dua akan menghadirkan penanggap film, Renni Apriliana, seorang sutradara perempuan yang berdomisili di Solo. Ia sebagai pembicara yang akan mengisi pada sesi "screening" setelah pemutaran film.P  

     Pemutaran film yang dihadiri ratusan penonton ini diawali dengan film "Nur" yang disutradarai oleh Maulida Annas. Film Nur mengangkat isu pelecehan terhadap perempuan. Film Nur bercerita tentang perjuangan single parent yang berjualan angkringan. Namun, ibu itu harus menghadapi pelecehan dari pelanggannya.

    Film kedua yang berjudul "30 Menit" disutradarai oleh Bara Mustika ini sama-sama mengangkat permasalahan pelecehan dan kekerasan seksual. Film ini menceritakan tentang pelaku kekerasan seksual yang akan menghadapi vonis hukuman terhadap kejahatan yang ia lakukan.

      Film ketiga berjudul “Uthil”, disutradarai oleh Yoga Ananta menceritakan kehidupan Koh Han Seng dalam melawan stereotip bahwa orang Cina itu pelit. Menariknya, film “Uthil” berusaha memainkan situasi 1998 sebagai latar cerita.

     Melalui acara ini, mahasiswa diajak untuk belajar mencapai standar industri sinema. Selain itu, “Panen Cinema” diharapkan bisa membangkitkan semangat berkarya bagi para mahasiswa dan menyehatkan ekosistem kampus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...