Langsung ke konten utama

Grand Closing PBAK 2024: Memperkuat Wawasan Mahasiswa Baru di Era Digital


Sukoharjo, 21 Agustus 2024 – Hari terakhir sekaligus Grand Closing Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2024 di UIN Raden Mas Said Surakarta berlangsung dengan penuh semangat. Acara yang digelar pada hari ke-tiga ini menjadi momen puncak bagi para mahasiswa baru untuk lebih mengenal dunia akademik dan kehidupan kampus.

Acara dimulai dengan sesi pembukaan oleh Master of Ceremony (MC) yang kemudian diikuti oleh sarapan pagi bersama. Peserta PBAK dibagi menjadi dua kelompok untuk mengikuti dua rangkaian acara utama yang berbeda.

Kelompok pertama berkumpul di lapangan utama kampus UIN Raden Mas Said Surakarta untuk mengikuti selebrasi paper mob. Selebrasi ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas mahasiswa baru tetapi juga simbol persatuan dan kebersamaan di antara mereka.

Sementara itu, kelompok kedua diarahkan menuju depan gedung Mah'ad Al-Jami'ah untuk mengikuti seminar bertema "Digital Finansial." Seminar ini dipandu oleh pembicara dari Bursa Efek Indonesia (BEI), yang memberikan pengenalan mendalam mengenai dunia pasar modal di Indonesia. 

Dalam seminar ini, pembicara menekankan pentingnya pemahaman yang benar tentang investasi, serta bagaimana mahasiswa baru dapat terhindar dari jebakan investasi bodong yang kerap muncul di era digital. Peserta seminar diberikan wawasan tentang berbagai instrumen investasi yang ada di pasar modal, serta tips dan trik dalam memilih investasi yang aman dan menguntungkan.

Grand Closing PBAK 2024 ini ditutup dengan harapan bahwa mahasiswa baru tidak hanya siap menghadapi dunia akademik tetapi juga dunia finansial yang semakin berkembang. Dengan bekal pengetahuan ini, diharapkan mereka dapat menjadi generasi yang lebih cerdas dan bijak dalam mengelola keuangan mereka di masa depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...