Langsung ke konten utama

WISUDA SARJANA, MAGISTER DAN DOKTOR KE - 56 UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA

 


SUKOHARJO - Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta menggelar sidang senat terbuka progamWisuda Sarjana, Magister, dan Doktor angkatan ke-56 yang di selenggarakan di Graha UIN Raden Mas Said Surakarta pada Rabu, 17 Juli 2024. Wisuda kali ini mengusung tema"Penguatan Literasi Digital Menuju Indonesia Emas 2045," dengan harapan kedepannya lulusan mampu mempunyai 4 pilar yaitu keterampilan digital, etika digital, budaya digital, dan kemampuan keamanan digital.

Wisuda diikuti sebanyak 1387 yang terdiri dariwisudawan program Sarjana sebanyak 1358 sedangkan pada program Magister sebanyak 23 lulusan dan 6 lulusan program Doktor. Prosesi wisuda berjalan dengan baik. Acara dilanjut dengan pembacaan ikrar alumni kemudian sambutan oleh Elsa Lailatul Marfu’ah S.Hum sebagai lulusan terbaik program sarjana dan sambutan dari  Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta. Wisuda berlangsung diselenggarakan di bawah pengawasan Ketua Senat UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Hj. Erwati Aziz, M. Ag.

Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Toto Suharto, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan atas pencapaian mereka dalam menyelesaikan studi. Beliau menekankan pentingnya penerapan ilmu yang telah diperoleh untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Para lulusan tentunya tidak hanya menerima gelar akademis mereka tetapi juga memasuki fase baru dalam kehidupan. Semoga ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh di UIN Raden Mas Said Surakarta dapat membawa mereka menuju masa depan yang sukses dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...