Langsung ke konten utama

SEMINAR NASIONAL 2024 “AL-QUR’AN DAN GENDER”


 SURAKARTA (7/3/2024) - Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-qur’an dan Tafsir (HMPS IAT) Universitas Islam Negri Raden Mas Said Surakarta telah melaksanakan acara seminar nasional dengan mengangkat tema “Al-qur’an dan Gender”. Seminar Nasional ini merupakan program kerja dari HMPS IAT UIN Raden Mas Said Surakarta yang berbasis offline atau tatap muka dan dilaksanakan di gedung SBSN UIN Raden Mas Said Surakarta. Kegiatan ini bertujuan meninjau ulang serta melihat kesetaraan gender dalam ruang dan paradigma al-qur’an dan tafsir.

Kegiatan seminar nasional ini dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan diawali sambutan dari Ketua Pelaksana, lalu dilanjutkan qiroatul qur’an. Kemudian dilanjutkan menyanyikan lagi kebangsaan Indonesia Raya, serta sambutan-sambutan dari petugas acara. Setelah sambutan acara dilanjut dengan pembukaan acara oleh moderator, yaitu Saddam Fakhri yang merupakan demisioner ketua HMPS IAT.

“Seminar Nasional ini mengambil tema al-qur’an dan gender karena sedang ramai isu mengenai kesetaraan gender. Seminar ini diikuti oleh banyak peserta dari berbagai program studi. Peserta yang berasal dari berbagai program studi mengikuti seminar ini untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan terkini tentang kesetaraan gender dalam ruang dan paradigma al-qur’an dan tafsir. Seminar Nasional tahun ini diisi oleh para pemateri yang kompeten di bidangnya, seperti Ulfa Fauzia Argestya, M.S.I (Dosen UIN Raden Mas Said) dan juga Nafisatul Mu’awwanah, M.A (Dosen UIN Sunan Kalijaga) Selain itu, Dafa Putra Yudiansyah selaku Ketua Himpunan Para pemateri dan peserta berharap bahwa dengan adanya kegiatan seminar ini dapat memperluas wawasan tentang kesetaraan gender dalam ruang dan paradigma al-qur’an dan tafsir serta memberikan kebermanfaatan bagi seluruh mahasiswa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...