Langsung ke konten utama

PANEN CINEMA

    

    SUKOHARJO,- Kamis, 22 Februari 2024 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Angkatan 2020 UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar nonton bersama hasil karya panitia kelas konsentrasi broadcasting yang diberi nama Panen Cinema. Nonton bareng ini diselenggarakan di Studio 3 CGV, Transmart Pabelan, yang terbagi menjadi tiga sesi nonton. Panen cinema ini menyuguhkan tiga judul film, yaitu Langkah Puan, Rasido Bedjo, dan Ambune. Penayangan film ini didukung oleh Sinema Warga, seluruh KPI Angkatan 2020 dan dibantu pihak Teater Sirat sebagai tokoh cerita.

    Sesi pertama dimulai pukul 19.00 WIB, dilanjut sesi kedua pukul 20.00 WIB yang mayoritas penontonannya adalah mahasiswa KPI Angkatan 2021-2022. Adapun sesi ketiga dipertunjukkan untuk semua crew atau orang-orang dibalik layar acara ini. Film pertama yang ditayangkan yaitu Langkah Puan yang disutradarai oleh RR Vency dan Reza Ulil, film kedua Rasido Bedjo disutradarai oleh Faiz Abdul Majid, dan film ketiga Ambune disutradai oleh Muhammad Fuad.

    Pemesanan tiket, dilakukan dengan mengisi link terlebih dahulu yang disediakan panitia untuk kemudian ditukar tiket offline di tempat acara dengan biaya Rp 25.000,-. Saat penayangan film, seluruh penonton menikmati dan merasa terhibur, apalagi pada film terakhir. Riuh tepuk tangan terdengar ketika film sesi pertama berakhir. Kemudian, pada sesi kedua terdapat bincang materi oleh penggarap film yaitu Reni Apriliana yang membahas seputar bedah film atau maksud dari kesan yang ingin disampaikan dari film tersebut.  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...