Langsung ke konten utama

SEMINAR NASIONAL 2023 “EKSISTENSI PERAN PARTISIPATIF MAHASISWA DALAM PEMILU 2024”

 


SURAKARTA (23/12/2023) - Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) Universitas Slamet Riyadi telah melaksanakan acara seminar nasional yang tahun ini mengangkat tema “Eksistensi Peran Partisipatif Mahasiswa dalam Pemilu 2024”. Seminar Nasional ini merupakan program kerja tahunan dari Himakom Fisip Unisri yang berbasis online atau daring dan dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Kegiatan ini bertujuan sebagai tolak ukur untuk mengetahui peranan mahasiswa dalam pemilu 2024 yang akan dilaksanakan pada Februari mendatang dan untuk mengenal lebih jauh mengenai pesta demokrasi yang akan datang.


Kegiatan seminar nasional ini dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan diawali sambutan dari Ketua Pelaksana Ahmad Akbar Qodri Asbath, lalu dilanjutkan sambutan dari Ketua HIMAKOM yaitu Dafa Putra Yudiansyah. Kemudian dilanjutkan sambutan dari Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi yaitu Drs. Buddy Riyanto, M.Si serta sambutan dari Rektor Universitas Slamet Riyadi yaitu Prof. Dr Drs. Sutoyo, M.Pd. Setelah sambutan acara dilanjut dengan pembukaan acara oleh keynote speaker, yaitu Yulianto Sudrajat, S.Sos., M.Ikom dan diambil alih oleh moderator untuk masuk ke serangkain acara Seminar Nasional.


“Seminar Nasional tahun ini mengambil tema politik karena sedang panas-panasnya, terlebih lagi pada tahun ini diikuti oleh 1000 peserta dari seluruh daerah di Indonesia” ujar Akbar selaku Ketua Pelaksana. Peserta yang berasal dari berbagai latar belakang dan daerah, mengikuti seminar ini untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan terkini tentang Pendidikan politik dan peran mahasiswa pada Pemilu 2024. ’’Seminar Nasional tahun ini diisi oleh para pemateri yang kompeten di bidangnya, seperti Bp. Roy Saputra (Komisi III DPRD Surakarta), Bp. Sutoyo (Rektor UNISRI), dan juga Saudara Rahardian Satya Mandala Putra (Influencer).’’ tambahnya. Selain itu, Dafa Putra Yudiansyah selaku Ketua Himpunan berharap bahwa dengan adanya kegiatan seminar ini dapat membuka pandangan baru tentang politik dan memberikan kebermanfaatan bagi seluruh masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...