Langsung ke konten utama

Pelepasan Wisudawan Wisudawati Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Ke 54



Surakarta, (04/10/2023) — Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta kembali menggelar pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Fakultas Ushuluddin dan Dakwah ke-54 yang bertempat di gedung Multazzam dengan tema "Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Keteladanan, Tanggung Jawab". Acara ini dimulai pada pukul 08.00 WIB. 


Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-quran, dan tari Sufi, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara ini dilanjutkan dengan pembacaan surat keputusan yang dibacakan oleh Dekan II Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Dr. Hj. Kamila Adnani M, Si. 


Dihadiri oleh 235 peserta Wisudawan dan Wisudawati yang terdiri dari 7 program studi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, para Wisudawan dan Wisudawati didampingi oleh wali masing-masing. Tak lupa penyerahan kenangan serta piagam penghargaan kepada Wisudawan dan Wisudawati terbaik oleh Prof Islah S, Ag. M, Ag. 


Yang menarik dari pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Fakultas Ushuluddin dan Dakwah kali ini adalah adanya penampilan persembahan dari mahasiswa FUD yakni Elfira, Monica dan Salsabila dengan menyanyikan lagu. Penampilan tersebut mampu membuat para Wisudawan dan Wisudawati menyanyi sambil bergoyang serta suasana haru ketika para Wisudawan dan Wisudawati menyalakan flash ketika lampu dimatikan. Tak hanya itu penampilan flashmob juga dilakukan oleh mahasiswa FUD untuk menambah kemeriahan acara pelepasan. 


Kami mengucapkan selamat kepada semua Wisudawan atas pencapaian luar biasa ini. Semoga ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh di UIN Raden Mas Said Surakarta dapat membawa mereka menuju masa depan yang cerah, sukses serta bermanfaat bagi bangsa dan negara.


Liputan Wisuda :

https://youtu.be/vpk0y_dwEdA?si=EwnMTW6_6q6Yrgi3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...