Langsung ke konten utama

Mengusung Tema Hastha Sawanda, Solo Batik Carnival Sukses Gelar Launching Event



Solo Batik Carnival sukses gelar Launching Event di Bale Tawangarum - Komplek Balaikota Surakarta pada Jumat (05/05/2023). Dengan mengusung tema "Hastha Sawanda", Solo Batik Carnival menghadirkan empat defile yang terdiri dari Reog Kendang, Seblang Olehsari, Menak Rengganis Widaninggar, dan Lembu Sura. Kegiatan Solo Batik Carnival telah berlangsung sejak Maret lalu yang diawali dengan kegiatan workshop. Puncak acara GrandCarnival akan dilaksanakan pada 8 Juli 2023.

Launching Event Solo Batik Carnival 14 ini dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surakarta, perwakilan Protokol Komunikasi Pimpinan Kota Surakarta dan sejumlah Media Partner. Kegiatan Launching Event Solo Batik Carnival 14 ini diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Ketua Yayasan Solo Batik Carnival, Ibu Lia Imelda, dilanjutkan dengan sambutan dari Dra. Is Purwaningsih, M.Si Selaku Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Surakarta. Kemudian dilanjutkan oleh pemaparan tema besar Solo Batik Carnival 14 oleh Art Director Solo Batik Carnival, Ade Sugriwa dan diakhiri oleh penampilan dari 7 kostum prototype Solo Batik Carnival 14.

Memperoleh antusias yang ramai, Solo Batik Carnival 14 tidak hanya menggandeng peserta dari Kota Solo saja tetapi juga peserta dari luar Kota Solo. Peserta terdiri mulai dari anak-anak hingga dewasa. Solo Batik Carnival 14 merupakan wadah yang ditujukan sebagai upaya dalam melestarikan batik sebagai salah satu budaya yang dimiliki Indonesia serta menambah kreativitas dalam hal seni pertunjukan yang dikemas dalam pagelaran karnaval.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...