Langsung ke konten utama

FESTIVAL TARI “SEMARAK BUDAYA INDONESIA 2023” BERHASIL DISELENGGARAKAN PADA HARI PERTAMA

 

Surakarta, 26/5/2023 – Program tahunan kota Surakarta yang di selenggarakan yakni Semarak Budaya Indonesia (SBI) berhasil terlaksana untuk kesepuluh kalinya. Semarak Budaya Indonesia di laksanakan pada hari jumat malam, 26 Mei 2023 bertempatan di balai kota Surakarta yang diketuai oleh Apriza Rizaldi Na’im, S.H. SBI digelar dengan menghadirkan tarian dari berbagai sanggar tari. Tari yang di tampilkanpun beragam diantaranya Tari Sekar Gunung dari Pasuruan, Tari Trajeng dari Pasuruan, Tari Ronjeh dari Pemalng dan masih banyak lagi.

Semarak Budaya Indonesia merupakan perwujudan dari ikhtiar merangkai jaringan sanggar sanggar seni di seluruh Indonesia. Festival SBI merupakan suatu etalase pagelaran seni yang mengemaskan budaya lokal dari seluruh Nusantara. Festival SBI sendiri bertujuan untuk mengapresiasi dan akulturasi bagi generasi budaya yang ada di Indonesia.

Pagelaran festival SBI 2023 dinikmati oleh berbagai kalangan umur dari anak anak, remaja sampai orang tua pun turut meramaikan serangkaian acara. Acara dibuka dengan pemukulan kethuk kepyang oleh ketua panitia dan beberapa jajarannya seperti ibu R. Ay. Irawati Kusumorasi, M. Sn, S. Sen, M. Sn, dan Mr. Lee Jeong Eun.

Penampilan tari pertama dari Semarak Candrika Art Center yang menampilkan Tari Kridaningrat. Pada penghujung acara atau penampilan terakhir pada hari pertama Festival SBI adalah Tari Zapin Beradat yang ditampilkan oleh Ikatan Keluarga Pelaja Mahasiswa Riau-Surakarta dilanjutkan dengan pembagian sertifikat kepada masing masing delegasi persanggar sebagai bentuk apresiasi atas keikutsertaannya dalam Festufal Semarak Budaya Indonesia (SBI).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...