Langsung ke konten utama

HIMAKOM Universitas Slamet Riyadi Sukses Selenggarakan Acara Commdude Meet Up

 


Surakarta, 22/10/2022 Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi sukses melaksanakan acara gathering Commdude Meet Up yang bertempat di Ballroom Horizon Aziza, Surakarta. Acara tahun ini mengusung tema “Classy bring happiness”, dengan diikuti oleh 155 orang mahasiswa baru, 52 orang panitia, dan beberapa media partner. Selain itu acara ini bertujuan sebagai sarana bagi mahasiswa baru angkatan 2022 Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi untuk menjalin relasi dengan sesama angkatan maupun antar angkatan dan memperkenalkan berbagai divisi yang difasilitasi oleh HIMAKOM.

Acara ini dimulai pada pukul 16.30 dan dilanjutkan dengan sambutan dan pemberian materi dari ke-4 divisi ilmu komunikasi Universitas Slamet riyadi. Acara ini berlangsung semarak dan menarik banyak antusiasme dari peserta. Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi, Risang Adi Linuwih menuturkan bahwa acara ini baru pertama kali digelar di hotel setelah hiatus beberapa lama sebagai terobosan baru dalam konsep acara Makrab.

Semoga nanti mahasiswa Ilmu Komunikasi itu dapat bersinergi bersama kami para pengurus himpunan karena saya mengharapkan bahwasanya Prodi Ilmu Komunikasi ini adalah selayaknya keluarga,jadi tidak ada batasan, tidak ada degradasi antara angkatan agar kita bisa berprogres bersama dan berproses bersama” Ujar Risang.

            Risang juga berharap bahwa dengan adanya acara ini maka mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2021 dapat bersinergi bersama para pengurus HIMAKOM. Acara ditutup pada pukul 21.30 setelah menjalani seranngkaian materi yang meliputi; materi Fotografi, Jurnalistik, Radio, dan Sinematografi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

PERANG CHIP, BABAK BARU AMERIKA VS CHINA

Sejak pengamatan Gordon Moore pada tahun 1965, menegaskan jumlah transistor pada mikroprosesor akan berlipat ganda setiap 2 tahun. Sementara harganya akan turun dan performa serta efisiensi daya akan semakin meningkat. Akan tetapi relevansi Hukum Moore saat ini dipertanyakan karena ukuran transistor terus mengecil, hampir mendekati ukuran sebuah atom membuat manufaktur semakin sulit. Sebagai contoh dilansir Nanoreview pada System on a Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 memiliki sekitar 16 miliyar transistor dengan fabrikasi 4 nm. Fabrikasi dibawah 10 nm merupakan yang paling canggih yang berhasil dibuat hingga saat ini. Pembuatan mikroprosesor dibawah 10 nm merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk produsen mikroprosesor. Salah satunya adalah Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan ini milik Pemerintah China yang bergerak di bidang pembuatan semikonduktor. SMIC kesulitan karena Amerika Serikat telah memblokir mesin litografi Extreme Ultraviolet ...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...