Langsung ke konten utama

Agenda Solo Batik Festival 2022 Berturut Turut Mendukung Pelestarian Batik, Kebudayaan, dan UMKM





Surakarta, 4 Oktober 2022 – Solo Batik Fashion selama 4 hari secara turut telah mengadakan berbagai macam agenda yang mendukung melestarikan batik dan kebudayaan. Tak hanya menampilkan peragaan busana batik, namun di Pendhai Gedhe Surakarta terdapat acara seperti lomba noled batik, lomba cover dance batik, seminar tentang batik dalam pernikahan adat jawa, dan untuk hari ini ada lomba tari anak nasional. Sementara itu, di Paragon Lifestyle Mall juga diadakan loba putra putri batik, festival tari anak, dan lomba make up tema prewedding. Selain itu juga terdapat bazar makanan, bazar pakaian & aksesoris untuk mendukung UMKM.

Sampai hari keempat ini, sudah ditampilkan 80 pertunjukan peragaan busana. Pada hari ini, di Pendaphi Gedhe Surakarta ditampilkan karya dari desainer yang berasal dari Korea Jiwan Galery. yang kemudian dilanjutkan menampilkan karya Kakean Wastra Gallery, Ji Hwan, Cok Abi, Joko SSP, Bayu Ramli, Solo Creative Fashion, Yussi Yuma Etnura, Rudy Juliant X Rere Batik, Khafana, dan Ratu Geisya. Sementara untuk di Paragon Lifestyle Mall, ditampilkan karya dari Young Desainer competition yaitu Hesti Satriani, Pamorth, Diatri Alfiani, Diatri Studio, Shinta Nugraha, Arief Ryan Fauzi, dan Ali Mahmudi.

“Semoga acara ini tetap berlangsung untuk kedepannya dan untuk menjaring desainer muda yang berbakat agar dapat berkarya dan menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi dan karya mereka kepada khalayak umum” Pesan yang diungkap Wahyu Nur Hidayat, Pemenang Lomba Young Desainer competition pada press conerence yang berlangsung di Paragon Lifestyle Mall.

Diharapkan dengan berlansungnya acara Solo Batik Fashion ke 14 bukan hanya menonjolkan karya batik saja namun juga bagaimana melestarikan batik dan budanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...