Langsung ke konten utama

GRAND JURI - Solo Batik Carnival XIII


 

Solo Batik Carnival XIII Metaverse : The Precious Legacy, telah menyelenggerakan Grand Juri pada hari Sabtu, 24 Agustus 2022 yang bertempat di Fountain Area Solo Square. Grand Juri ini merupakan ajang penilaian bagi seluruh peserta yang telah melalui rangkaian workshop dari bulan Juli. Kriteria penilaian dilihat dari progress pembuatan kostum selama workshop, kostum yang ditampilkan, makeup, dan kesesuaianya dengan tema.

Tari gambyong ditampilkan sebagai pembuka acara ini. Kemudian dilanjutkan dengan catwalk oleh para peserta grand juri SBC XIII. Dalam penampilannya, pada peserta dibagi dalam tiga defile antaranya Royal Kingdom sebanyak 22 peserta, Heritage Heredity sebanyak 26 peserta, dan Empire Intergalactic sebanyak 24 peserta. Para peserta dari setiap defile menampilkan flashmob setelah catwalk one by one. Beberapa tarian juga ditampilkan disela sela penampilan para peserta, diantaranya Tari Roro Ngigel dan Tari Bajidor Kahot

Dalam ajang Grand Juri Solo Batik Carnival XIII, menghadirkan para juri antaranya Lia Imelda Ketua Yayasan SBC, Nina Herlina Kepala Sub Divisi Bagian TU UPT Kawasan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Gembong Hadi Wibowo selaku Kabid destinasi dan pemasaran pariwisata, Novita Aryani pengamat kostum, dan Danang Priyanto Dosen Prodi Desain Mode Batik Institut Seni Indonesia, Surakarta.

Dengan adanya Solo Batik Carnival setiap tahunnya, diharapkan akan lebih banyak masyarakat yang bergabung tidak hanya dari kalangan seniman melainkan dari pemula juga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...