Langsung ke konten utama

Delegasi Dalam dan Luar Negeri Meriahkan Panggung Hari Kedua SIPA


   Solo, 9/09 - Setelah rangkaian acara pembuka pada hari pertama Solo International Performing Arts (SIPA) 2022, antusiasme masyarakat semakin bertambah untuk menikmati pagelaran dari panggung SIPA 2022. Dengan mengangkat tema “Art as The Spirit of Life Changing”, panggung SIPA kali ini diharapkan mampu menjadi penggerak dan pendorong ketika kehidupan mulai berubah. Hal ini terwujud dengan diselenggarakannya SIPA yang mampu menjadi penggerak kehidupan masyarakat di Kota Solo.

   Sebagai wadah berkumpulnya para seniman nasional maupun internasional, pada pagelaran SIPA 2020 di hari kedua ini seniman dan komunitas global terhubung melalui seni pertunjukan kali ini. Adapun delegasi yang turut memeriahkan panggung SIPA adalah Garuda Taekwondo dari Republik Korea, Wan Dance Studio dari Riau, Balaan Tumaan Ensemble dari Pontianak, Latif Bolat dari Turki, Anak Seni Asia x CCA UiTM dari Malaysia, Rodrigo Parejo dari Spanyol, Go Seong Folksong Group dari Republik Korea, dan Sadulur Sajaran dari Temanggung.

   “Perasaan sangat senang dan terpuja dan kami mempersembahkan budaya kami di Indonesia sebab kita akan berkongsi untuk memperkenalkan budaya. Untuk harapannya, kami bisa sekali lagi dan seterusnya supaya kita bisa berkolaborasi dengan negara-negara sesama Melayu.” ujar perwakilan delegasi Anak Seni Asia x CCA UiTM dari Malaysia. Anak Seni Asia x CCA UiTM menampilkan pertunjukan dengan judul “T.I.G.A”, yang merupakan kepanjangan dari Teguh Iman Garapan Angin, sebuah pertunjukan Teater Tradisional Malaysia - Mak Ying yang memadukan elemen seni musik, tarian, akting, dan nyanyian Mak Yong.

   Selanjutnya, SIPA juga telah mengadakan kuis mulai dari satu hari sebelum diadakannya pagelaran SIPA pada akun instagram resmi SIPA Festival.


Humas SIPA Festival

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran

  SURAKARTA   [30/08/2024] – Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara. Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. "Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati. Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama...

Lulusan UIN Susah Kerja: Antara Realita Skill dan Ekspektasi Tinggi

      Akhir-akhir ini, sering banget muncul anggapan kalau lulusan UIN itu susah cari kerja.Bahkan ada yang bilang skill-nya di bawah rata-rata,tapi giliran soal gaji, mintanya nggak kira-kira.    Kalau dilihat dari situ, memang ada beberapa hal yang jadi catatan.Selama kuliah,banyak mahasiswa yang lebih fokus ke teori,tapi skill praktiknya kurang diasah. Jadi pas lulus,mereka kaget karena dunia kerja butuh kemampuan yang langsung bisa dipakai,bukan cuma ngerti materi. Ditambah lagi ada yang bilang kurikulumnya masih nanggung, nggak benar-benar fokus di satu bidang.    Selain itu,pengalaman juga jadi faktor penting. Nggak sedikit yang lulus tanpa pernah magang atau punya portofolio yang jelas. Padahal sekarang, perusahaan lebih lihat apa yang bisa kita lakukan, bukan cuma nilai atau gelar. Jadi wajar kalau akhirnya banyak yang kalah saing.    Soal gaji juga sering jadi bahan omongan. Ada lulusan yang pengennya langsung dapat gaji tinggi, pada...

Kebijakan Penghapusan Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

     Sukoharjo ,Jum’at 22 Mei 2026 Baru-baru ini, dunia pendidikan ramai membahas wacana pemerintah tentang penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini muncul karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.    Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan bahwa beberapa program studi perlu “dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup” agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Kalau dilihat dari kondisi sekarang, alasan tersebut memang cukup masuk akal karena banyak lulusan sarjana yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Namun, menurut aku kampus tidak seharusnya hanya dijadikan tempat mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi juga punya peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, budaya, riset, dan cara berpikir kritis mahasiswa. Selain itu, kebutuhan industri terus berubah, sehingga jurusan yang dianggap kurang relevan...