Liburan itu mestinya waktu buat istirahat, senang-senang, dan kumpul sama orang tersayang. Tapi belakangan, momen libur sering berubah jadi ajang buat konsumsi berlebihan alias budaya konsumtif. Kita bukan cuma liburan buat rehat dari rutinitas, tapi sering juga buat ngeluarin uang lebih dari yang sebenarnya dibutuhin.
Coba lihat fenomena liburan akhir tahun, misalnya. Banyak orang yang pergi ke tempat wisata, nonton konser, booking hotel, sampai jajan makanan dan oleh-oleh tanpa pikir panjang. Tren ini nggak cuma terjadi di Indonesia aja, namun di luar negeri juga banyak yang belanja besar-besaran saat musim liburan.
Kenapa bisa gitu? Salah satu penyebabnya adalah perubahan cara kita memaknai liburan. Dulu liburan itu soal rehat dari pekerjaan atau sekolah. Sekarang, liburan sering jadi alasan buat self reward, healing, atau sekadar pengen ikut tren. Kafe Instagrammable, tiket konser yang mahal, sampai bayar mahal buat hotel cuma buat foto OOTD semua itu jadi bagian dari gaya hidup konsumtif yang makin populer.
Sebenarnya, konsumsi saat liburan punya sisi positif, seperti bantu menggairahkan ekonomi lokal atau bikin pengalaman berkesan. Tapi kalau udah kebablasan, bukan cuma dompet yang kena, tapi kadang kita lupa makna liburannya sendiri. Kita belanja bukan karena butuh, tapi karena ingin terlihat seru di sosial media atau karena takut FOMO. Itu yang bikin liburan jadi kurang bermakna dan lebih konsumtif.
Kalau budaya konsumtif ini dibiarkan tanpa kontrol, bukan nggak mungkin nanti yang terjadi malah kebiasaan boros yang susah dikendaliin. Jadi, sambil nikmatin liburan, nggak ada salahnya juga belajar buat mengontrol pengeluaran, memilih pengalaman yang berarti, dan nggak terus-menerus ikut arus konsumtif yang sekarang lagi nge-trend banget.
Sumber:
Artikel Tackling holiday consumerism and environmental impact (https://hallmanac.danahall.org/tackling-holiday-consumerism-and-environmental-impact/)

Komentar
Posting Komentar